MTs Mu’allimin Mudal Berbesar Hati Jadi Ajang Mini Workshop
TEMANGGUNG (Ampuh.id) – Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Mu’allimin Mudal Temanggung Nurhayati Ekoningsih SAg menyatakan dirinya dan lembaga madrasah yang diasuhnya, merasa berbesar hati serta bangga dengan digelarnya Mini Workshop penulisan puisi oleh Perkumpulan Penulis Indonesia Satu Pena Temanggung di MTs setempat, Sabtu (14/2/2026).
Dalam sambutan singkatnya, Nurhayati Ekoningsih menandaskan,mini workshop semacam itu baru pertama kali diselenggarakan di madrasahnya. Sebelumnya madrasah tersebut diakui kering terhadap besutan sastra (puisi). Oleh karena itu, dia menyebut kegiatan Satu Pena masuk madrasah ini sangat luar biasa.
“Pesan saya kepada para siswa, agar mengikuti workshop secara serius, karena ini kesempatan langka dan luar biasa,” ujarnya.
Ketua Satu Pena Temanggung Wiwik Hartati mengemukakan, mini workshop di MTs Mu’allimin Mudal Temanggung ini adalah putaran ketiga. Menurut Wiwik, workshop kali ini tidak salah kalau disebut luarbiasa. Tersebab, ujarnya menambahkan, hadir sebagai narasumber adalah Penyair Roso Titi Sarkoro yang Namanya sudah beken di blantika kepenyairan Indonesia.
Lebih dari itu, tandas Wiwik, Mini Workshop yang mengangkat topik “Cara Praktis Belajar Menulis Puisi” ini didukung penuh oleh Ketua Umum Satu Pena Jawa Tengah Gunoto Saparie. Tak kurang-kurangnya juga dihadiri beberapa Mahasiswa Unnes Semarang yang kebetulan sedang melaksanakan masa akhir tugas KKN di Temanggung.
Mewakili rekan-rekan mahasiswa dari Unnes Semarang yang sedang melakukan KKN di Temanggung, Fatimah Azzahro, Zahrona Lukmana Al Fafa, dan Delima Nuraini mengaku sangat beruntung dapat mengikuti mini workshop penulisan puisi ini. Pasalnya sekaligus melengkapi laporan kegiatan KKN.
Tiup Harmonika
Sementara penyair Roso Titi Sarkoro, tampak sigap membaca situasi peserta workshop yang masih awam dan asing terhadap sastra (puisi). Dalam menyampaikan materi benar-benar praktis tidak berteori. Ia mengatakan, secara umum menulis itu harus menguasai betul materi yang akan ditulisnya.
Pelajar MTs Mudal yang memang hidup di pedesaan tidak kesulitan berlatih menulis, Roso membuat kesepakatan dengan para siswa untuk menentukan tema yang akan dicoba untuk ditulis. Yaitu “kehidupan di pedesaan”.
Ketika Roso memberikan contoh puisi sederhana yang mudah dicerna oleh pelajar setingkat MTs, ia bahkan memusikalisasikannya dengan meniup harmonica. Oleh karena itu, suasana makin mencair dan membuat peserta mini workshop tambah antusias.
“Tapi napas saya serasa mau pedhot, ketika tiup harmonica tadi,” ujarnya berseloroh seusai penampilannya. (*)


