Para peserta seminar tentang proses kreatif menulis novel religi berfoto bersama dengan narasumber di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kaloran, Temanggung.
Para peserta seminar tentang proses kreatif menulis novel religi berfoto bersama dengan narasumber di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Kaloran, Temanggung.

Novel Religi Harus Mampu Membuat Pembaca Merenung

TEMANGGUNG (Ampuh.id) – Satupena Kabupaten Temanggung kembali menghidupkan semangat literasi di kalangan pelajar. Kali ini, mereka menggelar Seminar Literasi bertema “Proses Kreatif Menulis Novel Religi” di MTs Muhammadiyah Kaloran, Temanggung, Jumat, (22/5/2026).

Acara yang diikuti oleh puluhan siswa kelas 7 hingga 9 ini bertujuan untuk membekali peserta dengan pemahaman dasar dalam menulis karya fiksi bernuansa islami. Harapannya, para siswa mampu menciptakan bacaan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat akan makna kehidupan.

Ketua Satupena Temanggung, Wiwik Hartati, S.Pd., dalam sambutannya menegaskan komitmen lembaga yang dipimpinnya untuk terus mendorong budaya membaca dan menulis di Temanggung, khususnya di lingkungan madrasah.

“Satupena akan terus menggerakkan literasi di Temanggung, termasuk di MTs Muhammadiyah Kaloran. Salah satu cara mengabadikan jejak pikiran adalah dengan menulis,” terang Wiwik di hadapan peserta.

Senada dengan hal itu, Kepala MTs Muhammadiyah Kaloran, Sri Widyaretno SS menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran Satupena yang berkenan mendampingi para siswa. Ia juga memotivasi anak didiknya untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.

“Kami sangat berterima kasih kepada Satupena yang berkenan membersamai anak-anak belajar literasi. Saya berharap anak-anak terus membaca agar kosakata dan wawasan mereka semakin luas,” ujar Sri Widyaretno.

Memasuki sesi inti, lokakarya (workshop) dipandu oleh Bendahara sekaligus narasumber dari Satupena Temanggung, Ulul Azmi Umaroh SPd. Dalam paparannya, Ulul menjelaskan tahapan proses kreatif menulis novel religi secara detail, mulai dari mengembangkan premis, menyusun alur, menciptakan konflik tokoh, merancang plot twist, hingga menentukan akhir cerita (ending) yang berkesan.

Ia menekankan bahwa menulis novel tidak sekadar bercerita, melainkan media untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan kepada pembaca.

“Novel religi yang baik adalah yang mampu membuat pembaca merenung dan merasa dekat dengan nilai-nilai kebaikan tanpa merasa digurui,” jelas Ulul.

Sesi materi berlangsung interaktif. Para siswa terlihat antusias saat diajak langsung mempraktikkan pembuatan kerangka cerita singkat berdasarkan premis yang mereka tentukan sendiri.

Acara ditutup dengan penyerahan novel karya Ulul Azmi Umaroh kepada Kepala MTs Muhammadiyah Kaloran sebagai simbol dukungan terhadap pengembangan literasi di Madrasah tersebut. Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama antara pengurus Satupena, pihak madrasah, dan seluruh peserta.

Melalui kegiatan ini, Satupena Temanggung berharap dapat memantik semangat menulis di kalangan siswa, sehingga ke depan lahir penulis-penulis muda berbakat dari Temanggung yang mampu menginspirasi lewat karya sastra. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *