Kabupaten Magelang Ekspor Kopi Grabag Perdana ke Dubai
MAGELANG (Ampuh.id) – Kopi asal Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, resmi menembus pasar internasional. Sebanyak satu kontainer berisi 17 ton kopi jenis green bean diekspor ke Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), yang dilepas Bupati Magelang Grengseng Pamuji di halaman Kantor Kecamatan Grabag, baru-baru ini.
Dalam sambutannya, Bupati Grengseng Pamuji menegaskan, ekspor perdana ini bukan sekadar pengiriman komoditas, tetapi menjadi titik awal kebangkitan kopi Kabupaten Magelang.
“Ekspor ini menjadi momentum bagi Koperasi Grabag, dan pada akhirnya menjadi kebanggaan bagi seluruh petani kopi Kabupaten Magelang,” ungkapnya.
Menurutnya, peningkatan kualitas dan tata kelola perkebunan menjadi kunci hingga kopi Grabag diminati pasar global.
“Selama ini kopi kita banyak masuk ekspor, tetapi sering tidak tercatat berasal dari Magelang. Dengan tata niaga yang diperbaiki, kini identitas dan kualitas kopi kita memiliki posisi jelas di pasar global,” tegas Grengseng.
Dia menjelaskan, kopi mulai dibudidayakan di Grabag sejak masa kolonial Belanda dan terus diwariskan antargenerasi. Saat ini, luas lahan kopi di Grabag mencapai sekitar 1.200 hektare, menjadikannya salah satu sentra terbesar di Kabupaten Magelang.
Grengseng berharap ekspor ini menjadi langkah awal untuk peningkatan daya saing kopi lokal.
“Mulai hari ini, kopi Grabag tidak lagi hanya dikonsumsi lokal, tetapi hadir di panggung dunia. Ini baru langkah pertama, selanjutnya kita harus memastikan kopi Magelang terus tumbuh dengan kualitas terbaik,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, Romza Ernawan menyampaikan, Magelang memiliki potensi kopi unggulan dengan dua varietas dominan, yakni Robusta dan Arabika.
“Saat ini, total lahan kopi lebih dari 3.000 hektare. Terdiri dari 2.136 hektare Robusta dengan produksi 2.006 ton per tahun, dan 875 hektare Arabika dengan produksi 112 ton per tahun,” jelasnya.
Ditambahkan, robusta banyak ditanam di Kecamatan Grabag, Windusari, Tempuran, Borobudur, hingga Srumbung. Sedangkan Arabika tumbuh optimal di dataran tinggi lebih dari 1.000 mdpl seperti Ngablak, Pakis, dan Sawangan.
“Kecamatan Grabag menjadi sentra terbesar dengan luas tanam 1.480 hektare dan produksi 1.743 ton per tahun. Potensinya luar biasa, dan ekspor ini menjadi bukti kualitasnya diakui dunia,” tutur Romza.
Ekspor perdana ini didukung program nasional The Development of Integrated Farming System in Upland Areas (UPLAND) Komoditas Kopi Tahun 2025–2026, yang menetapkan Grabag sebagai lokasi prioritas seluas 800 hektare dengan anggaran Rp 18,96 miliar. Program tersebut melibatkan 27 kelompok tani dan 1.732 petani dari delapan desa.
Bantuan diberikan mulai dari sarana produksi, alat panen, mesin pulper, mesin huller, solar dryer, kendaraan operasional, hingga pelatihan barista. Selain itu, petani juga memperoleh akses microfinance mencapai Rp 3,75 miliar, dengan penyaluran tahap awal sebesar Rp 1,075 miliar.
Untuk memperkuat tata niaga, dibentuk kelembagaan koperasi bernama Koperasi Produsen Lereng Kelir, yang menjadi mitra utama petani dalam menjaga mutu, penyerapan hasil panen, hingga akses pemasaran ekspor. (*)

