Dewan juri dan panitia Lomba Menulis Esai tentang Salat berfoto bersama seusai penilaian terhadap ratusan naskah yang masuk.
Dewan juri dan panitia Lomba Menulis Esai tentang Salat berfoto bersama seusai penilaian terhadap ratusan naskah yang masuk.

Ratusan Peserta Ikuti Lomba Esai tentang Salat

KENDAL (Ampuh.id) – Lomba Menulis Esai bertema salat yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit Baitul Hikmah Kendal bekerja sama dengan Satupena Jawa Tengah mendapat sambutan luas dari masyarakat. Kegiatan ini diikuti oleh 391 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatra hingga Sulawesi.

Komisaris Rumah Sakit Baitul Hikmah Kendal, dr Siti Qomariyah mengatakan antusiasme peserta menunjukkan bahwa tema keagamaan yang dikemas dalam bentuk karya tulis masih memiliki daya tarik kuat di kalangan masyarakat.

“Peserta datang dari berbagai kota di Indonesia. Ada yang dari Aceh, Palembang, Bengkulu, Lampung, Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, Makassar, Palu, Kendari, Denpasar, Mataram, hingga dari kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta, Bandung, Bogor, dan Semarang,” ujar Siti Qomariyah.

Selain itu, sejumlah peserta juga berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Brebes, Pekalongan, Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, Batang, Kendal, Sukoharjo, Sragen, Demak, Pati, Kudus, Jepara, Grobogan, Blora, Ngawi, Tulungagung, Bojonegoro, Tuban, Jombang, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Jember, hingga Sumenep.

Menurutnya, penyelenggaraan lomba ini tidak sekadar ajang kompetisi menulis, tetapi juga sebagai upaya edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya salat serta nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.

Dewan juri lomba ini terdiri atas Ketua Umum Satupena Jawa Tengah Gunoto Saparie, Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah Mohammad Agung Ridlo, serta jurnalis senior Kendal Arif Budiman. Setelah melalui proses penilaian yang cukup ketat, dewan juri berhasil menetapkan tiga juara utama, sepuluh juara harapan, dan tujuh juara favorit.

Juara pertama diraih Saefudin yang berhak memperoleh hadiah uang tunai sebesar Rp 3 juta. Juara kedua diraih Fahta Handinsa Maulana Putra dengan hadiah Rp 2,5 juta, sedangkan juara ketiga diraih Dewi Robiah yang mendapatkan hadiah Rp 2 juta.

Selain tiga juara utama tersebut, panitia juga menetapkan sepuluh juara harapan. Mereka adalah MA Al-Rosyid, Bagas Pratomo, Slamet Bisri, Asma Sandi, Sahesti Yuli Ambarwati, Adnan Ghiffari, Yessy Ramanda, Asmariah, Mukhammad Pujiyanto, dan Eko Tunas. Masing-masing juara harapan memperoleh hadiah uang tunai sebesar Rp500 ribu.

Sementara itu, tujuh peserta lainnya dinobatkan sebagai juara favorit, yakni Tirta Nursari, Pipiek Isfianti, Kristian Yudhianto, Khoirun Nisa’, Monalisa Laurendra, Michael Clementino Gramma Da Silva, dan Yeni Endah. Para pemenang favorit ini mendapatkan cendera mata khusus dari Rumah Sakit Baitul Hikmah Kendal.

Siti Qomariyah menjelaskan lomba esai ini memiliki sejumlah tujuan edukatif. Salah satunya adalah mendorong peserta untuk menganalisis suatu topik secara lebih mendalam serta menemukan berbagai pemecahan masalah melalui tulisan.

“Melalui lomba ini kami berharap peserta dapat menyajikan ide-ide inovatif mengenai salat, sekaligus menjadikannya sebagai sarana untuk memublikasikan pemikiran, penelitian, atau opini kepada masyarakat,” katanya.

Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk merangsang minat baca dan menulis di tengah masyarakat. Dengan menulis esai, peserta didorong untuk mengembangkan kemampuan menyusun gagasan secara sistematis dan argumentatif.

“Yang tidak kalah penting, lomba ini juga menjadi sarana edukasi kepada masyarakat tentang salat, baik dari sisi spiritual, sosial, maupun refleksi kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Salah seorang juri, Gunoto Saparie, menyampaikan rasa syukur karena proses penilaian akhirnya dapat menghasilkan para pemenang terbaik di antara ratusan peserta yang ikut berkompetisi.

Menurutnya, kualitas tulisan para peserta secara umum cukup baik dan menunjukkan kesungguhan dalam mengolah tema salat dari berbagai sudut pandang.

“Kriteria penilaian kami meliputi kesesuaian tema, gaya bahasa, kedalaman materi, serta sistematika penulisan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa dalam proses penilaian, dewan juri tidak mempertimbangkan asal daerah peserta. Penilaian sepenuhnya didasarkan pada kualitas karya yang masuk.

“Para juri benar-benar fokus pada mutu tulisan. Jadi tidak ada kaitannya dengan asal daerah peserta. Siapa pun yang tulisannya paling kuat secara substansi dan penyajian, itulah yang dipilih sebagai pemenang,” ujarnya.

Dengan partisipasi ratusan peserta dari berbagai daerah, lomba ini diharapkan dapat menjadi salah satu ruang literasi yang mendorong lahirnya tulisan-tulisan reflektif tentang nilai-nilai ibadah dalam kehidupan masyarakat.

Penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan pada masa mendatang sehingga tradisi menulis esai, khususnya yang berkaitan dengan nilai-nilai spiritual dan sosial, semakin berkembang di tengah masyarakat Indonesia. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *