SPAM Pemprov Jateng Akhiri Krisis Air Bersih Warga Desa di Purbalingga
PURBALINGGA (Ampuh.id) – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengakhiri krisis air bersih yang bertahun-tahun membelit warga Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga, melalui pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Kini, cukup dengan memutar keran, air bersih sudah mengalir ke rumah-rumah mereka.
Kehadiran jaringan perpipaan itu mengubah keseharian warga, yang sebelumnya harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Ya, sebelum bantuan SPAM hadir, air bersih menjadi persoalan yang tak pernah lepas dari kehidupan warga Kutabawa. Saat musim kemarau tiba, mereka mengandalkan tampungan air hujan. Ketika persediaan habis, warga terpaksa membeli air dari mobil tangki. Ironisnya, tingginya permintaan membuat pesanan air baru bisa tiba tiga hingga empat hari kemudian.
Kepala Desa Kutabawa, Budiyono, mengatakan kesulitan air bersih semakin parah setelah bencana alam banjir bandang sekitar lima bulan lalu merusak jaringan pipa yang selama ini menyalurkan air dari sumber air di Desa Serang ke Kutabawa.
“Sebelum ada bencana, air bersih kami ambil dari desa sebelah. Setelah terjadi bencana, pipanya hilang sehingga distribusi air terputus,” kata Budiyono, Rabu (15/7/2026).
Mayoritas warga Desa Kutabawa menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Di tengah penghasilan yang bergantung pada hasil panen, biaya membeli air menjadi beban tersendiri. Menurut Budiyono, satu keluarga bisa mengeluarkan Rp 500 ribu hingga lebih dari Rp 1 juta setiap bulan, hanya untuk membeli air bersih.
“Kalau kemarau warga beli air. Pesannya sekarang, kadang tiga sampai empat hari baru datang karena penyedia tangki kewalahan. Sangat berat bagi warga,” ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada 2026 membangun jaringan SPAM dari Desa Serang menuju Desa Kutabawa. Program itu kini telah melayani 97 kepala keluarga yang sebelumnya kesulitan mendapatkan akses air bersih.
“Alhamdulillah sekarang air mengalir lagi. Pengeluaran warga yang dulu bisa Rp 500 ribu sampai lebih dari Rp 1 juta setiap bulan, sekarang paling sekitar Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu untuk iuran perawatan jaringan,” tutur Budiyono.
Dia mengungkapkan, persoalan air bersih di Kutabawa sudah berlangsung sejak lama. Berbagai upaya pernah dilakukan, termasuk pengeboran sumur hingga kedalaman 105 meter. Namun, sumber air tak kunjung ditemukan.
“Sudah lama sekali susah air. Pernah dibor sampai 105 meter, tetap tidak keluar air. Mudah-mudahan bantuan ini membawa manfaat besar bagi masyarakat,” katanya.
Manfaat SPAM dirasakan langsung oleh Nur Rahman, warga Desa Kutabawa. Sebelum jaringan perpipaan dibangun, keluarganya harus membeli dua tangki air setiap bulan dengan biaya per tangki sekitar Rp 250 ribu. Jika tidak mampu membeli, mereka berjalan kaki sekitar tiga hingga empat kilometer untuk mendapatkan air bersih.
“Dulu kami sangat kesulitan air bersih. Kalau tidak beli, ya harus jalan kaki sekitar tiga sampai empat kilometer. Sekarang alhamdulillah air bersih sudah mengalir sampai rumah-rumah warga. Kami sangat terbantu dengan program dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Provinsi Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro mengatakan, pembangunan SPAM merupakan bagian dari upaya Pemprov Jateng di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi, untuk memperluas akses air bersih di daerah-daerah yang mengalami keterbatasan sumber air.
Pada 2026, Pemprov Jateng membangun 12 SPAM di berbagai daerah. Enam di antaranya telah selesai, yakni di Desa Kutabawa dan Cipaku (Kabupaten Purbalingga), Desa Penakir dan Gunungsari Pemalang), Desa Margosari (Wonosobo), serta Desa Bandongan (Kabupaten Magelang). Sementara, enam lainnya masih dalam proses pengadaan melalui LPSE, yakni di Desa Bejarum (Wonosobo), Ragatunjung (Brebes), Ginandong (Kebumen), Karangkemojing (Banyumas), serta Pandanarum dan Bondolharjo (Banjarnegara).
“Pembangunan SPAM merupakan langkah konkret pemerintah untuk memastikan masyarakat memperoleh akses air bersih yang layak sekaligus meningkatkan kualitas hidup, terutama di wilayah yang selama ini menghadapi persoalan kekeringan,” pungkasnya. (*)


