Menag Serahkan Bantuan Rehabilitasi Rumah Ibadah untuk GPIB Immanuel Semarang

SEMARANG (Ampuh.id) – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyerahkan bantuan rehabilitasi rumah ibadah sebesar Rp 50 juta kepada GPIB Immanuel Semarang (Gereja Blenduk), Jumat (6/2/2026). Bantuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat moderasi beragama serta merawat rumah ibadah sebagai ruang perjumpaan spiritual dan sosial masyarakat.

Menag menegaskan rumah ibadah memiliki makna penting bagi kehidupan beragama di Indonesia. “Rumah ibadah itu adalah meeting point, titik perjumpaan antara umat dan Tuhan. Karena itu, kami memastikan rumah ibadah dari semua agama terawat dengan baik,” ujar Menag.

Menag menekankan Kementerian Agama memiliki tanggung jawab yang sama terhadap seluruh pemeluk agama, tanpa membedakan mayoritas maupun minoritas. “Saya selaku Menteri Agama berkewajiban melayani seluruh umat beragama tanpa membedakan agama mayoritas dan minoritas,” tegasnya.

Dia mengajak masyarakat untuk tidak terjebak pada perbedaan simbol dan istilah dalam tradisi keagamaan. “Perbedaan semantik bukan berarti perbedaan makna. Misalnya penyebutan Ibrahim, Abraham, atau Brahma dalam tradisi keagamaan yang berbeda. Substansinya sama-sama mengajarkan nilai ketuhanan dan kemanusiaan,” tutur Menag.

Menag menegaskan esensi moderasi beragama bukanlah menyamakan keyakinan, melainkan membangun sikap hidup berdampingan secara damai.

“Mari kita memberi contoh kepada masyarakat tentang moderasi beragama. Jangan memaksakan perbedaan untuk menyatukan semua keyakinan. Akan jauh lebih indah jika kita bisa hidup berdampingan, saling menghormati dalam perbedaan,” pesannya.

Sementara Ketua Majelis Jemaat GPIB Immanuel Semarang (Gereja Blenduk), Pendeta Maxsarles Kapoh menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap rumah ibadah lintas agama. Ia menyebut bantuan tersebut tidak hanya bermakna secara fisik, tetapi juga menjadi simbol penguatan persaudaraan dan moderasi beragama.

“Saya mewakili pengurus dan jemaat GPIB Immanuel Semarang menyampaikan terima kasih atas bantuan dan perhatian yang diberikan oleh Kementerian Agama. Perlu diketahui bahwa GPIB Immanuel Semarang juga menjalin kerja sama dengan UIN Walisongo dalam penguatan moderasi beragama, sebagai upaya membangun dialog lintas iman di tingkat lokal,” tutur Maxsarles yang telah menjabat selama 2 tahun.

GPIB Immanuel Semarang atau yang dikenal sebagai Gereja Blenduk merupakan salah satu gereja tertua di Indonesia. Gereja ini pertama kali dibangun pada 1742, dengan Johannes Wilhelmus Swemmelaar sebagai pendeta pertama pada masa pelayanan 1753–1760. Pada awalnya, bangunan gereja berbentuk rumah panggung Jawa. Namun, pada periode 1787–1794 dilakukan renovasi total sehingga arsitekturnya berubah mengikuti pola gereja Protestan Eropa dengan sentuhan gaya Barok dan Renaisans.

Setelah dilakukan renovasi beberapa kali, rehabilitasi total GPIB Immanuel Semarang telah diresmikan pada 6 September 2025 dan kini melayani sekitar 250 jemaat. Bantuan ini diharapkan dapat memperkuat fungsi gereja yang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan lintas iman yang menumbuhkan semangat moderasi beragama di tengah masyarakat. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *