Penguatan Literasi Tak Dapat Dilakukan Secara Parsial
SEMARANG (Ampuh.id) – Penguatan budaya literasi tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus melibatkan berbagai elemen, mulai dari pemerintah, akademisi, komunitas literasi, hingga masyarakat luas. Melalui kegiatan Peringatan 90 Tahun Nh Dini, diharapkan dapat menumbuhkan minat baca, meningkatkan apresiasi terhadap karya sastra, serta mendorong lahirnya generasi yang kritis, kreatif, dan berbudaya.
Hal itu dikemukakan oleh Kepala Bidang Pengelolaan Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Jawa Tengah Ir Listyati Purnama Rusdiana, MSi ketika membuka Peringatan 90 Tahun Nh. Dini di Ruang Audio-Visual Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Jalan Sriwijaya, Semarang, Selasa (5/5/2026).
Hadir dalam kegiatan itu Ketua Umum Satupena Jawa Tengah Gunoto Saparie, Ketua Bengkel Sastra Taman Maluku Sulis Bambang, Ketua Satupena Kota Semarang Fadjar Setyo Anggraeni, sejumlah tamu undangan, dan para pegiat literasi di Semarang.
Dalam sambutan yang dibacakan Nur Cahyati, Listyati mengatakan, Peringatan 90 Tahun yang diselenggarakan Bengkel Sastra Taman Maluku bersama Satupena Jawa Tengah ini memiliki makna yang sangat penting. tidak hanya sebagai agenda literasi, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap salah satu tokoh sastra besar Indonesia. yakni Nh. Dini. Melalui buku “Honesta: Kenangan 90 Tahun NH Dini, kita diajak untuk mengenang, memahami, dan merefleksikan perjalanan hidup serta kontribusi beliau dalam dunia sastra dan kebudayaan Indonesia.
“Kami memandang bahwa pelestarian karya dan pemikiran tokoh bangsa merupakan bagian darı upaya menjaga memori kolektif serta memperkuat identitas budaya. Kearsipan dan perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan dokumen dan buku, tetapi juga menjadi pusat pengetahuan, ruang belajar, serta wahana pengembangan literasi masyarakat,” katanya.
Listyati mengapresiasi kegiatan Satupena Jawa Tengah dan Bengkel Sastra Taman Maluku ini. Tidak hanya melalui bedah dan peluncuran buku, tetapi juga melalui parade baca puisi serta diskusi. Parade baca puisi menjadi bentuk ekspresi apresiasi terhadap karya sastra, sementara diskusi memberikan ruang dialog yang terbuka dan mendalam bagi kita semua untuk bertukar gagasan dan perspektif.
Kegiatan dibuka dengan tembang Asmaradana oleh Sriyanti S. Sastroprayitno. Mantan Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Triyanto Triwikromo memaparkan tentang keunikan karya-karya Nh. Dini dan perlunya Pemerintah Kota Semarang menghargai jasa-jasa Kartini di bidang sastra dan kebudayaan.
Selain itu, sejumlah penyair meramaikan acara dengan penampilan baca puisi dengan gaya khas masing-masing. Tampil antara lain Eko Tunas, Gunoto Saparie, Heru Mugiarso, Yusri Yusuf, Uun Kartinah, Windu Setyaningsih, Fadjar Setyo Anggraeni, Barokah, Sri Wahyu Wardhani, Andi Kustomo, Sun Djok San, Adi Susmoyo, dan lain-lain. (*)


