Indeks Toleransi di Masyarakat Jateng Tinggi, Kepala Kesbangpol:  Ini Harus Terus Kita Diperjuangkan

SEMARANG (Ampuh.id) – Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Jawa Tengah Haerudin mengaku bangga bahwa rasa toleransi toleransi dan kebangsaan masyarakat Jateng cukup tinggi dibandingkan daerah-daerah. Tinggi toleransi kebangsaan ini didasarkan pada hasil survei yang menempatkan wilayahnya menjadi salah satu provinsi yang toleran terhadap keberagaman.

“Pengenalan wawasan kebangsaan harus menjadi konsumsi harian kita, sehingga toleransi keberagaman tetap terjaga,” kata Haerudin di Semarang, baru-baru ini.

Haerudin memaparkan indeks toleransi di Jawa Tengah mencapai 72, lebih tinggi dibandingkan dengan Jabar dan Jatim. Meski demikian harus terus diperjuangkan.

“Seberapa penting milenial menerapkan wawasan kebangsaan. Jateng masih bagus. Indeks bela negara Semarang tertinggi. Untuk indeks toleransi di Jateng masih 72, sekian. Masih lebih tinggi dari Jabar dan Jatim,” kata Haerudin.

Haerudin menambahkan Kesbangpol Jateng terus melakukan tugas untuk memantapkan cara pandang dan pemahaman kebangsaan bagi generasi muda dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam peningkatan persatuan dan kesatuan bangsa. Peningkatan persatuan dan kesatuan ini diyakninya dapat mengurangi potensi konflik dan meredam berkembangnya paham-paham negatif pada masyarakat serta dapat melahirkan kader-kader yang mempunyai bekal pemahaman kebangsaan.

“Kondisi wawasan kebangsaan kita masih harus terus diperjuangkan, apalagi di era teknologi digital yang sangat efektif untuk memberikan pemahaman wawasan kebangsaan. Mari kita manfaatkan digital untuk positif, terutama magna kebangsaan, bukan untuk disalahgunakan. Misalnya, menyebar ujaran kebencian itu harus dihindari,” ujarnya.

Menurut Haerudin, generasi muda merupakan ujung tombak yang nantinya akan menjadi penopang dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa yang akan terus dikembangkan dalam kehidupan masyarakat di lingkungannya.

Para generasi muda, lanjutnya, harus mampu merevitalisasi kebangsaan. Sebab, kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi telah memberikan pengaruh pada rasa kebangsaan atau nasionalisme di kalangan milenial. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *