SAMAWA #27 Rayakan Milad ke-75 Jabrohim dan Peluncuran Buku Kumpulan Puisi ”Nyanyian Hati yang Lelah”

BANTUL (Ampuh.id) – Komunitas Seni Budaya Profetik (Kosbatik) kembali menggelar Kajian dan Apresiasi Seni SAMAWA #27, di kediaman pegiat seni dan pensiunan dosen Jabrohim di wilayah Salakan, Sewon, Bantul. Forum seni yang rutin diselenggarakan setiap selapan (35 hari) ini berlangsung istimewa karena bertepatan dengan milad ke-75 Jabrohim, sekaligus menjadi momentum peluncuran buku puisi terbarunya.

Dalam suasana hangat dan reflektif, Jabrohim meluncurkan kumpulan puisi berjudul Nyanyian Hati yang Lelah, yang diterbitkan oleh Yayasan Pusbatik bekerja sama dengan PT De Java Karya Wisesa Surakarta. Peluncuran buku ini disebut Jabrohim sebagai “hadiah kecil untuk diri sendiri”, sekaligus ikhtiar merawat kepekaan batin di tengah dunia yang kian riuh dan penuh kegaduhan sosial.

Acara dihadiri oleh sejumlah sahabat Jabrohim yang terdiri atas seniman, sastrawan, pemerhati seni, dan dosen dari berbagai latar belakang. Diskusi berlangsung cair, menempatkan puisi bukan sekadar produk estetik, melainkan sebagai medium refleksi, kritik sosial, dan pencarian makna spiritual.

Salah satu sesi penting dalam SAMAWA #27 adalah pemaparan dan pembacaan kritis atas kumpulan puisi Nyanyian Hati yang Lelah oleh Dr. Lephen Purwanto, S.Sn., M.Sn., M.Sc., dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dalam paparannya, Lephen menegaskan bahwa puisi dalam buku ini bergerak pada dua jalur utama yang saling menguatkan, yakni estetika dan profetika.

Menurut Lephen, puisi-puisi Jabrohim tidak berhenti pada permainan bahasa atau keindahan metafora semata, tetapi menghadirkan sikap moral yang jelas. Ia mengaitkan posisi Jabrohim dengan tradisi sastra Indonesia yang menempatkan penyair sebagai saksi zaman, sebagaimana ditegaskan Taufiq Ismail, sekaligus sebagai pejalan spiritual yang membaca nilai dan Tuhan melalui realitas kemanusiaan, sebagaimana diperluas oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).

Lephen mencontohkan puisi “Pagar Laut” sebagai ekspresi kegelisahan atas komodifikasi ruang hidup nelayan. Laut digambarkan bukan lagi sebagai sumber kehidupan, melainkan ruang dagang yang dipagari oleh kepentingan modal. Metafora pagar, menurutnya, bekerja sebagai simbol pembungkaman, memperlihatkan bagaimana puisi menjalankan fungsi estetik sekaligus keberpihakan moral.

Puisi “Ibu Tidak Dilahirkan untuk Menangis” dibaca Lephen sebagai kritik struktural atas ketidakadilan yang dialami perempuan. Sosok ibu tidak hadir sebagai figur romantik, melainkan sebagai tubuh yang terus menanggung beban sistem sosial yang timpang. Di sini, puisi bekerja melalui paradoks: kemuliaan yang diagungkan berhadapan dengan realitas keseharian yang menindas.

Sementara itu, puisi “Negara yang Tak Sempat Hadir di Dirinya Sendiri” memotret absennya negara dan suburnya kekuasaan informal. Puisi ini menghadirkan ironi tentang negara yang kehilangan pijakan moral dan menyerahkan tanggung jawabnya kepada mekanisme perlindungan semu. Adapun “Surat dari Pulau yang Menahan Napas” dibaca sebagai elegi ekologis, yang menegaskan bahwa bencana bukan semata peristiwa alam, melainkan akibat kelalaian manusia terhadap amanah lingkungan.

Rangkaian SAMAWA #27 ditutup dengan Muhasabah Akhir Tahun oleh Mustofa W. Hasyim, yang mengajak peserta menengok kembali perjalanan hidup, kesadaran sosial, dan tanggung jawab kemanusiaan. Melalui SAMAWA #27, Komunitas Seni Budaya Profetik kembali menegaskan komitmennya menjadikan seni sebagai ruang dialog, refleksi, dan penyadaran. Peluncuran Nyanyian Hati yang Lelah tidak hanya menjadi perayaan usia Jabrohim, tetapi juga peneguhan bahwa puisi tetap relevan sebagai suara nurani di tengah zaman yang lelah – namun masih berharap pada kemanusiaan. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *