Kepala Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu Mahyudin Al-Mudra sedang memaparkan pembahasannya.
Kepala Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu Mahyudin Al-Mudra sedang memaparkan pembahasannya.

Pantun sebagai Cermin Peradaban Melayu Dibahas pada SAMAWA #31 di Magelang

MAGELANG (Ampuh.id) – Kegiatan Kajian dan Apresiasi Seni Budaya SAMAWA #31 digelar pada Sabtu, 25 April 2026, di rumah mantan Staf Ahli Bupati Magelang, Sanny Budi Tjahjono Jalan Delima Raya 136 Magelang Utara. Dalam acara ini Mahyudin Al Mudra, Kepala Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, sebagai pemateri utama dalam sesi kajian budaya.

Dalam pemaparannya yang bertajuk “Pantun dan Jiwa Melayu: Alam, Budaya, dan Imajinasi Kebersamaan”, Mahyudin menegaskan bahwa pantun bukan sekadar bentuk puisi lama, melainkan cerminan cara pandang masyarakat Melayu terhadap alam, kehidupan, dan relasi sosial. Ia menyebut bahwa pantun menyimpan sistem pengetahuan yang kompleks, mencakup dimensi sastra, antropologi, hingga kosmologi budaya.

“Pantun bukan hanya hiburan atau permainan kata. Ia adalah cara orang Melayu membaca dunia dan memahami diri mereka dalam hubungan dengan alam dan sesama,” ungkapnya di hadapan peserta kajian.

Lebih lanjut, Mahyudin menjelaskan selama ini kajian pantun cenderung berfokus pada struktur formal dan fungsi normatifnya. Namun, pendekatan baru yang ia tawarkan menggeser perhatian pada aspek sosiogeografis dan kosmologis, terutama yang tercermin dalam bagian sampiran. Menurutnya, sampiran bukan sekadar pembuka, melainkan representasi hubungan manusia dengan alam dan menjadi “jantung” dari makna pantun itu sendiri.

Dalam konteks tersebut, pantun dipandang sebagai medium yang menghubungkan manusia dengan lingkungan hidupnya – laut, hutan, sungai, dan berbagai elemen alam lain – yang menjadi sumber simbol dan makna. Alam, dalam tradisi Melayu, bahkan disebut sebagai “bahasa kedua” yang menyatu dalam ekspresi budaya mereka.

Mahyudin juga menyoroti fungsi pantun sebagai bahasa kehidupan. Pantun digunakan untuk menyampaikan nasihat, mengungkapkan perasaan, menjaga hubungan sosial, hingga menyampaikan kritik secara halus. Pola komunikasi tidak langsung ini, menurutnya, mencerminkan kebijaksanaan sosial masyarakat Melayu.

Selain itu, ia memperkenalkan konsep cultural imagined community atau “komunitas kebudayaan yang diimajinasikan”. Dalam konsep ini, pantun berperan membangun rasa kebersamaan di antara masyarakat Melayu yang tersebar di berbagai wilayah, bahkan melampaui batas negara, politik, dan agama.

“Pantun tidak menanyakan identitas formal seperti asal negara atau agama. Ia bekerja pada tingkat nilai – menghubungkan melalui rasa, bahasa simbolik, dan ingatan bersama,” jelasnya.

Dalam situasi modern yang ditandai urbanisasi dan digitalisasi, Mahyudin mengakui adanya jarak antara manusia dengan alam, yang berdampak pada pemahaman simbol dalam pantun. Namun demikian, ia menegaskan bahwa pantun tetap adaptif dan mampu bertahan, termasuk melalui media digital, selama prinsip dasarnya tetap dijaga.

Kegiatan SAMAWA #31 ini tidak hanya menjadi ruang kajian, tetapi juga wadah apresiasi seni budaya yang mempertemukan berbagai kalangan – akademisi, pegiat budaya, hingga masyarakat umum – untuk bersama-sama merawat dan mengem-bangkan warisan budaya Nusantara. Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Heriyanto (anggota Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Ustadz Abu Ubaidillah (tokoh sepuh Muhammadiyah Magelang), Agus Amarulloh (Mantan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bantul), Ir. Mohamad Aman, MT (dosen Universitas Muhammadiyah Magelang), Syaiful Adnan (Maestro Seniman Kaligrafi), Rispul (Dosen ISI Yogyakarta), Kelik M. Nugroho (mantan Wartawan Tempo di Philipina), dan lain-lain..

Melalui forum ini, menurut Jabrohim sebagai Penanggung Jawab Kegiatan diharapkan pemahaman terhadap pantun dan budaya Melayu tidak berhenti sebagai romantisme masa lalu, tetapi terus hidup sebagai cara berpikir, cara berbahasa, dan cara membangun kebersamaan di tengah masyarakat yang semakin majemuk. Seperti kegiatan Samawa sebelumnya, materi kajian diterbitkan dalam bentuk buku. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *