Air Rowo Jombor Klaten Menyusut Drastis, Stok Masih Aman untuk Irigasi Pertanian

KLATEN (Ampuh.id) – Selama berbulan-bulan tidak ada hujan membuat debit air Rowo Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, menurun drastis. Meski menurun drastis, ketersediaan air waduk tersebut disebut masih mencukupi untuk kebutuhan irigasi pertanian di sejumlah desa.

Berdasarkan pantauan, garis air kian menjauh dari tepian waduk. Tepian waduk yang biasanya tergenang air mulai terlihat. Ada yang ditumbuhi rerumputan, ada pula yang mengering dan pecah-pecah. Bambu yang menancap di area waduk juga terlihat menonjol seiring air yang surut.

Sejumlah aktivitas warga di kawasan waduk tersebut masih berjalan meski debit menurun. Seperti aktivitas para nelayan hingga budi daya ikan menggunakan karamba di sisi tengah waduk. Begitu pula dengan aktivitas perahu wisata yang masih berjalan melayani wisatawan di area yang masih cukup digenangi air.

Berkurangnya debit air Rowo Jombor terjadi seiring kemarau dengan kondisi tanpa hujan selama berbulan-bulan. Selain itu, air dari waduk tersebut secara berkala dialirkan untuk irigasi pertanian sesuai fungsi utamanya.

Koordinator Operasional dan Pemeliharaan Bendungan Waduk Rowo Jombor, Nandung Setiawan, menjelaskan fungsi inti waduk untuk mendukung irigasi terutama pada MT 2 dan MT 3. Pada MT 3, air waduk dialirkan secara berkala ke saluran irigasi mulai Agustus.

Nandung menjelaskan luas waduk Rowo Jombor sekitar 178 hektare dengan daya tampung normal sekitar 3.200 meter kubik. Saat ini, kapasitas air yang masih tersedia sekitar 750 meter kubik.

Meski berkurang, Nandung menjelaskan ketersediaan air waduk masih mencukupi untuk irigasi pertanian di wilayah sekitar hingga masa panen MT 3. Area pertanian yang mendapatkan suplai irigasi dari Rowo Jombor terutama di lima desa wilayah Kecamatan Bayat. Kelima desa itu yakni Jotangan, Kebon, Gununggajah, Talang serta Tawangrejo.

Terkait aktivitas yang ada di waduk, Nandung menjelaskan untuk kegiatan budi daya ikan menggunakan karamba masih aman. Zona karamba itu berada di sisi tengah waduk dengan kondisi perairan masih cukup dalam. Sementara, aktivitas perahu wisata sebagian masih berjalan.

Kedalaman waduk Rowo Jombor tak seragam. Pasalnya, ada beberapa bagian dasar waduk itu yang berbentuk palung. Ada bagian waduk dengan kedalaman 4 meter hingga 5 meter.

“Kalau memang yang tidak terbiasa ke Rowo Jombor, itu bahaya [ketika berjalan di area perairan]. Ada yang berjalan ketinggian air sekitar lutut, tetapi tiba-tiba tenggelam karena terperosok ke area yang kedalamannya sampai 5 meter,” jelas Nandung saat dihubungi Espos, Sabtu (17/10/2026).

Salah satu warga Dukuh Drajat, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Ruwadi, 59, mengatakan penurunan debit air Rowo Jombor terjadi sejak Agustus lalu. Ia memperkirakan penurunan tinggi muka air waduk itu pada kemarau ini sekitar 2,5 meter.

Meski ada penurunan cukup signifikan, Ruwadi menjelaskan area waduk terutama di sisi tengah masih dalam. Kondisi itu terjadi lantaran kedalaman waduk tak merata. “Di tengah itu masih ada yang ke dalamannya sampai 2 meter,” jelas warga yang sehari-hari menjadi nelayan di waduk Rowo Jombor. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *