Puisi Esai Ajak Kita Menulis dengan Dua Mata
SEMARANG (Ampuh.id) – Puisi esai mengajak kita menulis dengan dua mata: satu mata melihat kenyataan, satu mata lagi melihat ke dalam diri. Pelatihan puisi esai bukan hanya kegiatan sastra; ia adalah ruang bagi kita untuk memberi kesaksian. Kesaksian tentang hidup, tentang masyarakat, tentang zaman yang terus bergerak.
Hal itu dikatakan oleh Ketua Umum Satupena Pusat Denny JA ketika memberikan sambutan tertulis yang dibacakan oleh Ketua Umum Satupena Jawa Tengah Gunoto Saparie pada Pelatihan dan Penguatan Kompetensi Penulisan Puisi Esai tentang Perencanaan Wilayah dan Kota, Sabtu (22/11/2025).
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota (Planologi) Universitas Sultan Agung dan Satupena Jawa Tengah itu berlangsung di Ruang Kuliah Lantai 3 Program Planologi Unissula, Jalan Raya Kaligawe Km 4, Semarang.
Dalam kegiatan yang dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik Unissula Dr Abdul Rokhim MT itu, Denny mengatakan, genre puisi esai menyatukan fakta dan empati, realitas dan renungan, sehingga setiap bait dapat menjadi catatan kecil yang menyentuh nurani. Dalam sejarah, suara yang bertahan adalah suara yang jujur.
”Karena itu, saya berharap para peserta berani menulis apa yang mereka saksikan: luka, harapan, kegelisahan, dan kebenaran yang sering luput dalam hiruk-pikuk berita. Satu pengalaman pribadi bisa menjelma cahaya bagi orang lain,” ujarnya seraya menambahkan satu pesan sederhana, yaitu tulislah bukan hanya yang indah, tetapi juga yang benar, karena di situlah keindahan sejati tinggal.
Dalam kegiatan yang dipandu oleh Tirta Nursari itu, Mohammad Agung Ridlo menunjukkan kekuatan puisi esai. Menurut dia, medium ini menggabungkan narasi argumentatif dan keindahan bahasa, memungkinkan kita menyelami realitas urban yang kompleks secara lebih puitis, dalam, dan reflektif. Puisi esai adalah bentuk sastra yang unik karena menggabungkan unsur naratif, argumentatif, dan puitis.
Dalam konteks wilayah dan perkotaan, demikian Agung, puisi esai menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan keresahan sosial, kritik terhadap kebijakan, dan harapan terhadap masa depan. Puisi esai tidak hanya menampilkan fakta, tetapi juga mengajak pembaca merasakan realitas yang dihadapi oleh masyarakat urban.
Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah ini menunjukkan, puisi esai tentang perencanaan wilayah dan perkotaan dapat mengangkat isu-isu seperti perubahan fungsi lahan dan konflik agraria, kehilangan ruang publik dan privatisasi ruang kota, ketimpangan sosial dan ekonomi, dampak urbanisasi terhadap lingkungan dan budaya lokal, dan transformasi identitas dan nilai-nilai masyarakat.
Gunoto Saparie menunjukkan sejumlah contoh kasus planologi di Jawa Tengah yang bisa diangkat ke dalam puisi esai. Misalnya, revitalisasi Kota Lama Semarang. Ini merupakan kisah panjang tentang upaya menghidupkan kembali kawasan Kota Lama sebagai pusat wisata sejarah. Ada penataan drainase di bawah tanah untuk mengatasi rob, perbaikan fasad bangunan kolonial, relokasi pedagang, pengaturan parkir, dan penataan ruang publik, dan konflik antara pelestarian cagar budaya dan kebutuhan komersialisasi.
Contoh kasus lain, demikian penyair yang baru saja mendapatkan Penghargaan 50 Tahun Berkarya Sastra dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, adalah normalisasi dan penataan Banjir Kanal Timur dan Barat Semarang. Ini merupakan kisah penting dalam perencanaan kota akibat ancaman rob dan banjir besar. Konflik utamanya adalah kebutuhan teknis (tanggul, kolam retensi, pompa) versus perubahan sosial bagi warga bantaran sungai yang direlokasi.
Sebelumnya Gunoto menunjukkan sejumlah ciri khas puisi esai. Antara lain puisi esai memiliki cerita yang panjang, seringkali berbentuk babak-babak, yang menggambarkan dinamika karakter dan kenyataan sosial. Selain itu, puisi esai seringkali mengeksplorasi konflik sosial dan pengalaman batin individu yang terlibat dalam konflik tersebut.
”Meskipun berbentuk puisi, puisi esai berusaha menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca. Puisi esai dapat memotret tokoh dan peristiwa nyata, namun tetap bersifat fiksi dalam penyampaiannya,” ujarnya.
Gunoto menuturkan, catatan kaki merupakan ciri khas puisi esai, yang memberikan informasi tambahan atau konteks bagi pembaca. Puisi esai juga menjadi subjek kritik, karena beberapa pihak menganggapnya terlalu dekat dengan prosa dan kehilangan esensi puitis.
Sebelum Gunoto memaparkan makalahnya, Dr Slamet Riyadi Bisri MT memberikan semacam pengantar khusus. Ia menceritakan, bagaimana buku-buku sesungguhnya merupakan harta karun bagi kita, khususnya para penulis. Karena itu sebagai penulis kita harus banyak membaca buku.
Kegiatan pelatihan menampilkan pewara Adnan Ghifari dan Merry Naufa itu juga dimeriahkan oleh pembacaan puisi dari para hadirin, antara lain Siti Fatimah, Sulis Bambang, Yusri Yusuf, dan beberapa mahasiswa Unissula. Sementara di awal sebelum pembukaan diputarkan video pembacaan puisi esai oleh Monica JR dari Satupena Pusat. (*)

