PKK Didorong Jadi Agen Perubahan di Era Digital
SEMARANG (Ampuh.id) – Peran strategis perempuan, khususnya anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dalam menghadapi tantangan era digital menjadi sorotan utama dalam Seminar Peran PKK dalam Era Digital sebagai Agen Perubahan yang digelar di Wisma Perdamaian, Semarang, Sabtu (27/12/2025). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Central Kristen Indonesia (CKI) Semarang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang.
Seminar menghadirkan tiga narasumber lintas disiplin, yakni Dr Siswanto MSi Psikolog dari Universitas Katolik Soegijapranata, Dr Juliawati Rahardjakusuma SPsi MPd Psikolog yang dikenal sebagai pionir Psikometafisika, serta drg Erwita Dinarsari MARS, Direktur RSU William Booth Semarang. Diskusi dipandu oleh moderator Dian Rosita SKom SH MH.
Dr Siswanto memaparkan pengaruh ponsel terhadap kehidupan remaja dan anak-anak. Menurutnya, ponsel membawa dampak positif berupa kemudahan komunikasi dan akses informasi, namun juga menyimpan dampak negatif yang signifikan jika digunakan secara berlebihan dan tidak bijak.
“Gangguan tidur, penurunan prestasi akademik, masalah kesehatan fisik seperti mata lelah, sakit punggung, obesitas, hingga gangguan saraf, serta persoalan kesehatan mental seperti kecemasan, stres, dan depresi menjadi risiko nyata,” ujarnya.
Ia menegaskan, perempuan anggota PKK memiliki peran penting sebagai agen perubahan melalui keteladanan penggunaan ponsel, penyaring informasi keluarga, penggerak literasi digital, serta penjaga nilai dan etika.
Pandangan tersebut ditegaskan oleh Dr Juliawati Rahardjakusuma. Ia mengingatkan pentingnya orang tua memberi contoh konkret, bukan sekadar melarang anak bermain ponsel. “Sering kali orang tua melarang, tetapi justru mereka sendiri tidak bisa lepas dari layar,” katanya.
Juliawati juga menyoroti bahaya perundungan siber (cyberbullying), yakni penindasan berulang melalui media digital dengan tujuan mempermalukan atau mengintimidasi korban. Bentuknya antara lain penyebaran hoaks dan gosip, unggahan konten memalukan tanpa izin, pesan kasar dan mengancam, hingga pengawasan akun korban secara terus-menerus. Dampaknya serius, mulai dari kecemasan, depresi, hingga penurunan kepercayaan diri.
Sementara itu, drg Erwita Dinarsari menjelaskan dampak perundungan siber dari sisi kesehatan. Korban kerap mengalami rasa malu, takut, marah, dan terisolasi, disertai gangguan fisik seperti sakit kepala, nyeri leher, gangguan tidur, dan kelelahan berkepanjangan. “Dalam kondisi ekstrem, korban berisiko melukai diri sendiri atau bunuh diri,” ujarnya.
Seminar dibuka oleh Ketua PKK Kota Semarang, Ir Listyati Purnama Rusdiana MSi yang mengapresiasi inisiatif CKI Semarang. Ia berharap materi seminar dapat disosialisasikan di lingkungan masing-masing.
Ketua CKI Semarang, Soegiharto Budiono, didampingi Sekretaris Albertus Mahatma Yoga Kusuma, menegaskan bahwa PKK memiliki peran strategis dalam mengedukasi orang tua untuk mengontrol akses anak terhadap konten digital yang tidak pantas.
“Berangkat dari latar belakang tersebut, CKI bersinergi dengan Pemkot Semarang menyelenggarakan seminar ini guna meneguhkan keluarga sebagai benteng utama, dengan PKK sebagai garda terdepan dalam membentuk generasi yang berkarakter, berpendidikan, dan siap menghadapi tantangan era digital,” ujarnya. (*)



Dengan mengikuti Seminar peran PKK dalam era degital sebagai agen perubahan di Wisma Perdamaian yang di selenggarakan oleh Central Kristen Indonesia ( CKI ) bekerjasama dengan Penerintah Kota Semarang menambah wawasan kita semua menjadi sangat luar biasa , semuga kedepannya bisa di lajsanakan lagi untuk kader PKK , Semuga Kota Semarang Semakin Hebat
Matursuwun