Tim Mahasiswa Undip Gagas Recula, Inovasi Pengolahan Sampah Terintegrasi
SOLO (Ampuh.id) – Masalah sampah di Indonesia bukan lagi sekadar permasalahan biasa, melainkan krisis sistemik yang terus memburuk seiring pertumbuhan populasi. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK yang dirangkum Databoks, timbulan sampah nasional telah mencapai angka fantastis 33,79 million ton pada tahun 2024. Dari total tersebut, komposisi terbesar didominasi oleh sisa makanan sebesar 39,36% dan sampah plastik sebanyak 19,64%.
Limbah-limbah ini berpotensi besar menghasilkan emisi metana dari proses anaerobik yang berkontribusi langsung terhadap perubahan iklim global. Ironisnya, sekitar 37% dari total timbulan sampah tersebut belumterkelola dengan baik dan berakhir begitu saja mencemari lingkungan sekitar.
Kondisi ini menjadikan krisis sampah sebagai salah satu isu keprihatinan bangsa yang sangat mendesak untuk diselesaikan secara struktural. Selama ini, masyarakat yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) harus menghadapi dampak buruknya secara langsung. Warga terpaksa menghirup udara tercemar setiap hari, sementara air sumur mereka tidak lagi layak dikonsumsi akibat kontaminasi cairan lindi yang meresap ke dalam tanah secara berkelanjutan. Krisis ini diperparah oleh pendekatan pengelolaan sampah konvensional yang masih bersifat parsial, di mana penanganan hanya terbatas pada penimbunan atau pembersihan fisik tanpa menyentuh limbah turunan berbahaya seperti lindi dan mikroplastik.
Padahal, zat beracun tersebut telah terdeteksi masuk ke dalam tubuh manusia melalui rantai makanan. Pembangunan infrastruktur fisik terbukti belum mampu mengubah kondisi ini secara berkelanjutan jika tidak dibarengi dengan sistem penanganan yang terpadu.
Melihat masalah krusial tersebut, Tim Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mengusung gagasan bertajuk “Inovasi Sistem Kawasan Pengolahan Sampah Terintegrasi Berbasis Ekonomi Sirkular dan Valorisasi sebagai Tahapan Menuju Kemandirian Energi Indonesia 2045” dengan menghadirkan inovasi bernama Recula.
Recula merupakan sebuah sistem kawasan terpadu yang mengintegrasikan teknologi tepat guna berbasis tenaga lokal Indonesia. Sistem ini didesain khusus untuk mengelola lindi, plastik, dan mikroplastik secara sirkular dalam satu ekosistem yang mandiri energi.
Dengan gagasan tersebut tim mahasiswa ini berhasil memperoleh pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Gagasan besar ini lahir dari kolaborasi solid tim mahasiswa yang diketuai oleh Naurah Safa Labibah dari program studi Ilmu Komunikasi (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik). Dalam menyusun arsitektur sistem ini, Naurah bekerja sama dengan empat anggota tim lainnya, yaitu Muhammad Rafly Andika Putra dan Aulia Keyla Chairunissa yang juga berasal dari Ilmu Komunikasi (FISIP), Faishal Rahman Irawan dari Teknik Lingkungan (Fakultas Teknik), serta Loisa Margaret Ambarita dari Kimia (Fakultas Sains dan Matematika). Penyusunan konsep komprehensif ini juga tidak lepas dari bimbingan intensif dosen pendamping mereka, Yohanes Thianika Budiarsa SIKom MGMC.
Ketua Tim Recula, Naurah Safa Labibah, mengungkapkan bahwa proyek ini hadir untuk memecahkan kebuntuan dari sistem pengelolaan sampah saat ini yang cenderung berjalan sendiri-sendiri tanpa solusi akhir yang tuntas.
“Belum adanya sistem yang mampu mengintegrasikan pengolahan lindi, remediasi mikroplastik, dan pemanfaatan energi secara bersamaan menjadi alasan utama mengapa masalah TPA kita tidak pernah selesai. Ditambah lagi, adanya ketimpangan ekonomi membuat masyarakat di sekitar TPA cenderung mengabaikan pengelolaan sampah karena masih terfokus pada pemenuhan kebutuhan dasar mereka. Melalui Recula, kami memadukan proses biologis, mekanis, dan termal dalam satu kawasan terpadu menggunakan pendekatan direct thermal coupling agar sistem ini bisa berdiri mandiri, bernilai ekonomi bagi warga, dan sekaligus memulihkan lingkungan sekitar,” ujar Naurah dalam siaran persnya, Jumat (3/7/2026).
Secara teknis, lanjut Naurah, Recula diformulasikan sebagai sistem ekonomi sirkular modular yang sangat adaptif terhadap konteks lokal. Pengolahan lindi dimulai melalui proses anaerobic digestion yang mencakup tahapan hidrolisis, asidogenesis, asetogenesis, hingga metanogenesis. Proses biologis ini terbukti efektif menurunkan beban pencemar lingkungan sekaligus memproduksi biogas sebagai sumber energi internal bagi sistem.
Sisa dari proses ini berupa ampas semistabil (digestate) tidak dibuang begitu saja, melainkan distabilisasi menggunakan teknologi fitoremediasi lewat tanaman hiperakumulator untuk menurunkan kandungan logam beratnya , sehingga siklus material menjadi lebih tertutup dan aman dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas.
Sementara itu, untuk mengatasi karakteristik sampah sungai yang kompleks, Recula menerapkan Modul Remediasi Sungai berbasis Multi-Stage Filtration atau penyaringan bertingkat. Tahap pertama menggunakan bar screen berbahan baja tahan karat untuk menahan material berukuran besar seperti kayu dan sampah plastik makro, sekaligus melindungi sistem filter berikutnya.
Tahap kedua menggunakan rotating drum screen berpori 1-5 cm yang dilengkapi sistem self-cleaning guna menyaring partikel berukuran sedang sekaligus mencegah penyumbatan akibat sisa lumpur dan minyak. Pada tahap ketiga, filtrasi difokuskan pada penyisihan mikroplastik berukuran di bawah 5 mm menggunakan micro mesh filter serta biofilter mikroalga yang membantu proses pengendapan partikel sekaligus menyerap polutan organik.
“Keunggulan utama dari Recula terletak pada inovasi Modul Direct Thermal Coupling yang menghubungkan konversi limbah menjadi energi dengan lini produksi. Biogas yang dihasilkan dari pengolahan lindi akan dibakar di dalam ruang tertutup, lalu panasnya dialirkan secara langsung menggunakan heat exchanger menuju reaktor peleburan plastik. Pendekatan kopling termal langsung ini sengaja menghindari konversi energi menjadi listrik untuk meminimalkan kehilangan daya, sehingga sistem mampu mencapai efisiensi yang sangat tinggi,” jelas Naurah.
Plastik yang telah meleleh kemudian dicetak menjadi produk konstruksi berupa eco-paving block yang bernilai jual tinggi. Tidak hanya itu, sisa biogas yang melimpah juga memiliki potensi besar untuk didistribusikan langsung sebagai sumber energi terbarukan bagi masyarakat di sekitar TPA , guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dalam jangka menengah.
Sistem ini dirancang sederhana agar seluruh komponen teknologi tepat gunanya dapat dirakit, dioperasikan, dan dirawat secara mandiri oleh SDM lokal Indonesia. Ditunjang dengan SPO yang jelas serta skema rantai nilai pendapatan yang nyata dari penjualan eco-paving block dan pupuk , Recula mampu berjalan secara mandiri tanpa ketergantungan penuh pada subsidi pemerintah. Implementasi sistem ini ke depan akan melibatkan kolaborasi multipihak yang solid, mulai dari pemerintah sebagai regulator, akademisi sebagai pengembang teknologi, sektor industri selaku penyedia sistem, hingga masyarakat sekitar sebagai pelaku utama operasional.
Sebagai langkah nyata, tim telah menyusun peta jalan (roadmap) implementasi selama lima tahun ke depan. Pada Fase I (Tahun 1), fokus utama diarahkan pada pengembangan prototipe awal serta uji coba sistem filtrasi dan produksi biogas. Memasuki Fase II (Tahun 2-3), kerja tim akan mencakup integrasi penuh antarmodul, optimalisasi efisiensi energi, dan penyusunan standar operasional baku.
Selanjutnya, pada Fase III (Tahun 4-5), proyek ini ditargetkan masuk dalam tahap analisis kelayakan ekonomi, standardisasi desain, hingga replikasi sistem secara massal di berbagai TPA skala prioritas nasional. Melalui perencanaan yang matang dan terukur ini, Recula diproyeksikan dapat menjadi acuan standar baru bagi revitalisasi TPA yang berkelanjutan demi menyongsong visi besar Indonesia Emas 2045. (*)


