Wisuda Ke-76 USM, Inilah Pesan Prof Dharto….
SEMARANG (Ampuh.id) – Masa depan itu dibentuk, tidak bisa diprediksi dan tidak bisa diramalkan. Karena itu, maka menjadi penting bagi para wisudawan untuk membentuk masa depan.
Hal itu diungkapkan Ketua Pembina Yayasan Alumni Undip, Prof Sudharto P Hadi MES PhD dalam sambutannya pada Upacara Wisuda Ke-76 USM di Auditorium Ir Widjatmoko Jl Soekarno-Hatta, Tlogosari, Pedurungan, Semarang, Rabu (20/5/2026).
Wisuda Ke-76 USM diikuti 1.267 wisudawan. Ke-1.267 wisudawan tersebut terdiri atas S1 Ilmu Hukum sebanyak 123 orang, DIII Manajemen Perusahaan (7), S1 Manajemen (381), S1 Akuntansi (132), S1 Teknik Sipil (56), S1 Teknik Elektro (35), S1 Perencanaan Wilayah dan Kota (15), S1 Teknologi Hasil Pertanian (37), S1 Psikologi (177), S1 Sistem Informasi 53), S1 Teknik Informatika (80), S1 Ilmu Komunikasi (62), S1 Pariwisata (7), S2 Hukum (35), S2 Manajemen (39), dan S2 Psikologi (28).
”Masa depan itu dibentuk oleh Anda, oleh kita. Jika bukan dari kita, adalah orang lain,” kata Prof Dharto, panggilan akrab Prof Sudharto.
Dia mengatakan, keberhasilan hari kemarin merupakan awal perjuangan hari ini. Keberhasilan hari ini merupakan awal perjuangan besok pagi.
”Kita itu hanya punya tiga hari yakni hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Kinerja Anda nanti akan diuji di lapangan, di user, di tempat kerja. Ujian sesungguhnya adalah ketika Anda sudah terjun ke masyarakat. Mudah-mudahan semua lulusan USM adalah yang mampu merepresentasikan kompetensi tadi,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan para wisudawan hari ini merupakan buah dari ketekunan.
”Yen kowe tekun itu bakal entuk teken, yen wis entuk teken, bakal tekan, tercapai entuk tiga hal tadi. Jadi teken itu ijazah, ijazah yang lagi ramai terus-menerus ya.Jadi bicara ijazah itu bisa berarti bukti kebenaran yang sah menyatakan Anda telah lulus,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah VI Jawa Tengah, Prof Dr Ir Aisyah Endah Palupi MPd mengatakan, lapangan pekerjaan tidak bertumbuh secara signifikan, namun lulusan selalu ada.
”Para wisudawan sekarang masuk di dalam masa digital. Semua banyak dibantu oleh kecepatan digital, dengan menggunakan artificial intelligence (AI), baik itu digunakan pada saat kita kuliah, mengerjakan tugas, bahkan untuk mengerjakan skripsi sekalipun ada yang bantu,” ujarnya.
Karena itu, katanya, dia minta para wisudawan hati-hati dalam menggunakan AI. Sebab, digital itu bisa jadi akan menggerus critical thinking, dan cara berpikir kritis. Karena semua-muanya sudah dijawab.
”Jadi kita lupa kalau harus berpikir bagaimana caranya memecahkan masalah. Tetapi kalau kita tepat untuk menggunakan itu, membantu dalam apa pun, maka itu akan menjadi baik.Jadi itulah yang menjadi tantangan saat ini,” tandasnya. (*)


