|

Agustina Minta Gerakan PKK Prioritaskan Pemberantasan Jentik Nyamuk, Pengembangan Tanaman Toga dan Pengelolaan Sampah

SEMARANG (Ampuh.id) – Anggaran Rp 25 juta per RT pada 2026 dipastikan akan difokuskan untuk program ketahanan pangan dan lingkungan hidup di Semarang. Kebijakan tersebut disampaikan Wali Kota Agustina Wilujeng Pramestuti di Oudetrap Kawasan Kota Lama, Rabu (20/5/2026).

Selain anggaran Rp 25 juta per RT per tahun, biaya operasional untuk tingkat RT dan RW juga disebut telah disiapkan Pemkot Semarang guna mendukung pelaksanaan program berbasis lingkungan dan ketahanan pangan di wilayah masing-masing.

Dalam arahannya, Agustina menegaskan gerakan PKK akan diarahkan pada tiga prioritas utama, yakni pemberantasan jentik nyamuk, pengembangan tanaman toga, serta pengelolaan sampah melalui pembentukan bank sampah di tingkat RW.

“Pergerakan PKK itu prioritasnya ada tiga. Yang nomor satu adalah jentik nyamuk. Kemudian yang kedua adalah setiap RT harus punya tanaman toga. Yang ketiga ini berkorelasi terhadap gerakan lingkungan dan bank sampah,” ujar Agustina.

Menurut Agustina, tema pembangunan Kota Semarang pada 2026 dalam RPJMD diarahkan pada penguatan ketahanan pangan dan lingkungan hidup. Karena itu, penggunaan anggaran Rp 25 juta per RT diminta selaras dengan program tersebut.

“Nanti kita kembali ke sebenarnya RPJMD kita itu selama lima tahunan memiliki tema. Tema tahun ini adalah ketahanan pangan dan lingkungan hidup. Maka perintah spesifiknya untuk Rp25 juta berkaitan dengan itu,” katanya.

Ia menyebut program ketahanan pangan dapat diwujudkan melalui pemanfaatan lahan maupun pekarangan rumah untuk menanam sayur dan tanaman kebutuhan dapur sehari-hari.

“Apakah boleh kita menanam sayur mayur di kebun Oh iya, itu bisa dijalankan bersama-sama dalam kelompok RW. Ada multiplier effect ekonomi yang bisa diambil walaupun sedikit,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Agustina juga meminta setiap RT memiliki tanaman toga sebagai langkah mendukung kesehatan keluarga sekaligus pelestarian pengobatan tradisional.

Disebutkan, tanaman toga tidak hanya ditanam, tetapi juga harus dipahami manfaatnya oleh masyarakat sebagai pertolongan pertama untuk pengobatan tradisional.

“Tanaman toga itu fungsinya tidak hanya menanam, tetapi juga mengerti yang namanya jahe itu fungsinya apa, bentuknya seperti apa, kemudian kencur itu seperti apa untuk pertolongan pertama,” tuturnya.

Ia mencontohkan penggunaan ramuan tradisional seperti beras dan kencur yang sejak dahulu digunakan masyarakat untuk mengatasi benjol atau memar.

“Dulu kalau ada benjol, yang dilakukan nenek moyang kita itu meremas beras sama kencur lalu ditempelkan. Itu turun-temurun dan sekarang mungkin masih bisa menjadi pertolongan pertama,” katanya.

Pemkot Semarang juga mendorong penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui pembentukan bank sampah di seluruh RW.

Agustina mengatakan setiap RW diminta memiliki target bank sampah, baik dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada maupun membentuk lokasi baru.

“Saya ingin setiap RW itu memiliki target bahwa ada bank sampah yang dituju. Kalau belum ada, mereka harus menciptakan atau menemukan tempat untuk bank sampah,” ujarnya.

Menurut dia, Kota Semarang saat ini tengah masuk dalam sejumlah skema pengolahan sampah menjadi energi, termasuk pengolahan sampah menjadi listrik dan bahan bakar solar.

“Hari ini Kota Semarang masuk dalam skema proses pengolahan sampah menjadi energi listrik. Ada juga pengolahan mining sampah yang akan dijadikan bahan bakar solar,” katanya.

Dalam arahannya, Agustina turut mengingatkan agar biaya operasional RT dan RW digunakan untuk mendukung program pemberdayaan masyarakat dan lingkungan.

Disebutkan, operasional PKK RT sebesar Rp3 juta per tahun dan operasional PKK RW sebesar Rp3,5 juta telah dialokasikan Pemkot Semarang.

“Pemkot sudah memberi biaya operasional PKK setahun Rp3 juta untuk RT dan Rp3,5 juta untuk RW. Gunakan ini,” tegasnya.

Ia menambahkan pelatihan pengolahan sampah hingga produk ekonomis juga akan diberikan kepada kelompok masyarakat melalui program pemerintah.

“Akan diajari bagaimana caranya kita bisa mengelola, mengolah, dan menjadikannya menjadi hal-hal yang ekonomis,” kata Agustina.

Sebagai bagian kampanye lingkungan hidup, Pemkot Semarang juga berencana menggelar lomba fashion berbahan daur ulang sampah.

Kegiatan tersebut disebut akan melibatkan berbagai komunitas dan menjadi bagian edukasi pengelolaan sampah kreatif di masyarakat.

“Dalam waktu dekat kita akan melaksanakan lomba fashion dari bahan-bahan sistem daur ulang,” ujar Agustina. (Adv)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *