|

Viral Pelecehan Santriwati di Lingkungan Pesantren, Gus Huda Sesalkan Tindakan tak Terpuji Oknum Pengasuh Ponpes

SEMARANG (Ampuh.id) – Fenomena maraknya kasus pelecehan seksual di lingkungan pondok pesantren dinilai harus disikapi secara serius melalui pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah agar lembaga pendidikan keagamaan tetap menjadi ruang aman bagi para santri.

Kasus pelecehan seksual yang belakangan mencuat di sejumlah pesantren disebut telah mencederai kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan berbasis agama yang selama ini dikenal sebagai tempat pembentukan akhlak dan karakter generasi muda.

Di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kasus tersebut, keberadaan pesantren yang menjalankan pendidikan berdasarkan nilai-nilai keagamaan dan sanad keilmuan yang jelas dinilai perlu dibedakan dari lembaga yang hanya menggunakan label pesantren tanpa menjalankan fungsi pendidikan secara benar.

“Bagi kami sangat menyayangkan sekali. Ada oknum yang selama ini berdakwah di tengah masyarakat dengan menunjukkan kesalehannya, tetapi ternyata isi hatinya seperti itu,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Santri Ndalan Nusantara (Sandal), Gus Muchammad Nur Huda atau Gus Huda, usai mengikuti kegiatan Semar Senin Malam di Serambi Rumah Dinas Wali Kota Semarang, Senin (8/6/2026) malam.

Menurutnya, tidak semua pondok pesantren dapat disamaratakan dengan kasus yang sedang terjadi. Ia mengingatkan adanya istilah yang pernah disampaikan para ulama mengenai perbedaan pesantren yang benar-benar mengajarkan nilai agama dengan lembaga yang hanya menggunakan identitas pesantren.

“Guru kami pernah menyampaikan dawuh seorang pengasuh pesantren besar di Jawa Tengah. Katanya akhir zaman ini ada pondok wesi dan pondok plastik. Pondok wesi itu pesantren yang mengajarkan norma-norma keagamaan sesuai sanadnya, kitab kuning dan ilmu-ilmu agama. Sedangkan pondok plastik diistilahkan sebagai pondok abal-abal,” ujarnya.

Pengawasan Pesantren Dinilai Mendesak

Pengawasan terhadap pesantren disebut perlu diperkuat guna mencegah terulangnya kasus kekerasan maupun pelecehan seksual di lingkungan pendidikan berbasis agama.
Menurut Gus Huda, pemerintah tidak hanya perlu hadir melalui dukungan anggaran, tetapi juga harus menjalankan fungsi pembinaan dan pengawasan secara langsung terhadap penyelenggaraan pesantren.

“Harapan besar kami, pemerintah ikut mengawal pesantren dan mengawasi pesantren. Seperti di Kota Semarang sudah ada Perda Pesantren. Jadi bukan hanya pesantren mengambil kemanfaatan secara finansial dari pemerintah, tetapi pemerintah juga bisa turun langsung untuk ikut mengawasi,” katanya.

Dengan adanya pengawasan tersebut, pesantren diharapkan dapat terhindar dari berbagai praktik yang berpotensi merugikan santri maupun mencoreng nama baik lembaga pendidikan keagamaan.

“Harapannya, dengan pengawasan dari pemerintah, pesantren di Kota Semarang terhindarkan dari hal-hal yang tadi disebutkan,” lanjutnya.

Tiga Kiat Memilih Pesantren untuk Anak

Dalam kesempatan itu, Gus Huda juga membagikan tiga pedoman bagi orang tua yang hendak menitipkan anaknya ke pondok pesantren maupun lembaga pendidikan lainnya.

Pedoman tersebut disebut berasal dari dawuh ulama kharismatik Pesantren Lirboyo, Syekh Mahrus Ali, yang menekankan pentingnya kualitas guru dan arah pendidikan yang diberikan kepada santri.

“Satu, carilah guru yang bertanggung jawab. Kedua, carilah guru yang mengajarkan kitab-kitab yang sehat dan memiliki sanad yang bisa dipertanggungjawabkan. Ketiga, carilah guru yang memiliki gagasan dan inovasi untuk membawa para santrinya melestarikan budaya-budaya para kiai dan wali serta mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik,” ungkapnya.

Menurutnya, tiga kriteria tersebut menjadi dasar penting agar pendidikan yang diterima anak dapat berlangsung secara aman sekaligus memberikan manfaat yang luas bagi masa depan mereka.

Pondok Pelaku Kekerasan Diminta Dibubarkan

Tindakan tegas terhadap pesantren yang terbukti melakukan kekerasan maupun pelecehan seksual juga didorong untuk dilakukan.

Gus Huda menilai lembaga yang terbukti melakukan pelanggaran serius terhadap santri tidak layak dipertahankan karena berpotensi menimbulkan korban baru.

“Kalau ada pondok pesantren yang melakukan seperti itu, lebih baik dibubarkan,” tegasnya.

Meski demikian, nilai-nilai kebaikan yang selama ini diajarkan dalam dunia pesantren disebut tidak boleh ikut dihilangkan hanya karena adanya tindakan segelintir oknum.

“Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah. Maka yang dilihat adalah akhir kehidupannya. Banyak contoh orang yang awalnya memusuhi Rasulullah kemudian bertobat dan wafat dalam keadaan husnul khatimah,” ujarnya.

Santri Ndalan Jadi Ruang Kebersamaan Lintas Agama

Selain menyoroti persoalan pesantren, Gus Huda juga menjelaskan konsep pendidikan yang dijalankan oleh Santri Ndalan Nusantara yang membuka ruang pembelajaran bagi masyarakat dari berbagai latar belakang.

Menurutnya, keberagaman merupakan realitas bangsa Indonesia yang harus diterima dan dirawat bersama.

“Kita hidup di dalam bangsa yang beragam. Dengan konsep Pancasila, kita memiliki berbagai latar belakang budaya dan agama. Santri Ndalan menjadi wadah semua orang yang ingin menjadi baik,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keberadaan peserta dari kalangan nonmuslim di komunitas tersebut bukan untuk menghilangkan identitas masing-masing, melainkan menjadi sarana membangun nilai kebersamaan dan kemanusiaan.

“Siapa pun yang ingin bersama-sama menuju kebaikan dan mencari rida Tuhan, Santri Ndalan siap menjadi wadah bagi mereka tanpa melihat status sosial maupun status agama,” jelasnya.

Semar Senin Malam Dirancang Merajut Perbedaan

Pada kesempatan yang sama, Gus Huda menjelaskan kegiatan Semar Senin Malam yang telah memasuki penyelenggaraan ketiga digelar untuk memperkuat hubungan antarwarga dari berbagai latar belakang.

Kegiatan tersebut disebut dirancang sebagai ruang dialog dan silaturahmi yang mampu mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam suasana yang harmonis.

“Tujuan Semar ini untuk merekatkan dan menyatukan perbedaan, merajut tali kasih, dari yang tidak kenal menjadi kenal, dari yang bermusuhan menjadi teman, dari yang jauh menjadi dekat,” pungkasnya. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *