Setahun Bergelut dengan Masalah Sampah, Agustin-Iswar Mampu Wujudkan Ide Sederhana ”Semarang Bersih”

SEMARANG (Ampuh.id) – Genap satu tahun sudah pemerintahan Agustina Wilujeng sebagai Wali Kota Semarang bersama Wakil Wali Kota, Iswar Aminuddin. Dari semangat bergerak bersama, Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah kini mampu mengurai permasalahan sampah.

Semua ini berawal dari ide sederhana yang diberi nama “Semarang Bersih”. Agustina tidak mau program kebersihan cuma berhenti di sapu dan tempat sampah. Ia mengajak warganya berpikir, bagaimana kalau sampah yang biasa kita buang, justru bisa jadi sumber penghasilan.

Setahun terakhir, data pembangunan Kota Semarang menunjukkan grafik yang terus naik. Artinya, kesejahteraan warga benar-benar membaik.

“Warga kota Semarang semakin berkualitas. Ukuran kualitas hidup warga yang disebut Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kota Semarang kini mencapai 85,80 di tahun 2025. Angka ini melompat dari tahun 2020 yang masih 83,05. Lebih membanggakan lagi, capaian ini lebih tinggi dari rata-rata Jawa Tengah dan nasional. Artinya, anak-anak Semarang makin banyak yang sekolah, dan warganya makin sehat,” sebut Wali Kota Semarang Agustina saat memaparkan kinerjanya, Jumat (20/2/2026).

Dia menyebut, warga miskin berkurang. Tahun 2020 lalu, angka kemiskinan kota Semarang masih 11,84 persen. Sekarang, diperkirakan tinggal 9,36 persen. Turunnya konsisten dari tahun ke tahun: 11,25 persen (2021), 10,98 persen (2022), 10,77 persen (2023), 10,19 persen (2024), hingga 9,71 persen dan sekarang 9,36 persen.

“Ini bukti program pemberdayaan ekonomi benar-benar menyentuh warga yang membutuhkan,” tambahnya.

Menurut Wali Kota Semarang, hubungan semua angka bagus ini dengan program “Semarang Bersih” terletak pada konsep sampah jadi duit, atau istilah kerennya ekonomi sirkular.

Wali Kota mengubah cara pandang warga. Sampah bukan lagi masalah, tapi peluang. Lewat bank sampah, warga diajak memilah dan mengelola sampah yang kemudian punya nilai jual.

“Hasilnya, bank sampah menjamur di mana-mana. Dari 664 unit di tahun 2024, kini ada 857 unit bank sampah yang aktif. Coba bayangkan, hampir di setiap sudut kota, warga berlomba memilah sampah. Total sampah yang berhasil dikelola bank sampah mencapai 1.705,7 ton,” papar Agustina.

Omzet miliaran rupiah. Kerja sama bank sampah dengan PKK berhasil mengelola 1.080 ton sampah. Dari tumpukan sampah itu, lahir perputaran uang mencapai Rp1,89 miliar. Uang ini langsung masuk ke kantong warga yang rajin menabung sampah. Sebanyak 1.906 tas pilah sampah juga sudah dibagikan agar warga makin mudah memilah dari rumah.
ASN jadi teladan. Para pegawai pemerintah juga tak mau kalah. Lewat gerakan “ASN Wegah Nyampah” , mereka berhasil mengurangi sampah dari aktivitas kantor sebanyak 4,3 ton per hari. Ini contoh nyata bahwa memulai dari diri sendiri itu ampuh.

Sarana kebersihan makin lengkap. Pemerintah kota menambah 36 kontainer sampah (dari 418 jadi 454 unit) dan 37 unit TPS (dari 200 jadi 237 unit). Tempat Pengolahan Sampah (TPS3R) juga bertambah 4 unit, dari 22 jadi 26 unit.

“Kini ada 4 IPAL domestik (instalasi pengolahan air limbah) yang tersebar di berbagai lokasi, termasuk di Taman RBRA Abdurrahman Saleh dan kawasan Hamka, Ngaliyan. Air limbah rumah tangga pun terkelola dengan baik,” tutup Agustina. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *