Sempat Langka, Minyakita Kembali Beredar di Pasar Peterongan Semarang

SEMARANG (Ampuh.id) – Minyak goreng Minyakita kembali beredar di Pasar Peterongan, Kota Semarang, setelah sempat mengalami kelangkaan sejak Idul Fitri 2026. Ketersediaan minyak goreng bersubsidi tersebut disambut lega oleh para pedagang karena selama beberapa bulan terakhir banyak dicari masyarakat akibat harganya yang lebih terjangkau dibandingkan minyak goreng curah.

Kelangkaan Minyakita sebelumnya disebut telah memicu keresahan di kalangan konsumen. Meski kini pasokan mulai masuk kembali, jumlah distribusi yang diterima pedagang masih dinilai terbatas sehingga dikhawatirkan belum mampu memenuhi tingginya permintaan masyarakat.

Pedagang sembako di Pasar Peterongan mengungkapkan, pengiriman Minyakita mulai dilakukan kembali oleh Bulog pada Senin siang. Namun, alokasi yang diterima tidak lagi sebanyak sebelumnya sehingga stok diperkirakan cepat habis.

Pedagang sembako Beny Susanto mengatakan kelangkaan Minyakita telah terjadi sejak Idulfitri 2026.

“Minyakita sudah langka sejak Idulfitri. Hari ini baru dijadwalkan dikirim lagi oleh Bulog, tetapi jatahnya berkurang. Biasanya saya menerima empat kardus, sekarang hanya dua kardus,” ujar Beny, Senin (29/6/2026).

Menurut Beny, harga minyak goreng di pasaran hingga kini belum mengalami penurunan. Minyak goreng curah masih dijual sekitar Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram, sedangkan Minyakita tetap dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET), yakni Rp 15.700 per liter.

Ia menilai selisih harga tersebut menjadi alasan utama Minyakita selalu diburu masyarakat, khususnya kalangan berpenghasilan rendah.

“Masyarakat lebih memilih Minyakita karena harganya jauh lebih murah dibandingkan minyak goreng curah, sehingga sangat membantu kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Beny berharap distribusi Minyakita dapat dilakukan secara berkelanjutan agar ketersediaan stok di tingkat pedagang tetap terjaga.

“Harapan kami pasokannya terus dikirim secara rutin supaya masyarakat tidak lagi kesulitan mendapatkan Minyakita,” ujarnya.

Terkait temuan Minyakita yang sempat dilaporkan berbau solar di sejumlah daerah beberapa waktu lalu, Beny memastikan kondisi tersebut tidak ditemukan di Pasar Peterongan, Kota Semarang.

Menurutnya, kemungkinan bau tidak sedap tersebut disebabkan oleh kesalahan penyimpanan atau produk yang terlalu lama disimpan.

“Di sini tidak ada temuan seperti itu. Kemungkinan karena penyimpanannya kurang baik atau barang terlalu lama tersimpan sehingga muncul bau yang tidak sedap,” pungkasnya. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *