Sejarahwan Inggris Prof Dr Peter Carey (kanan) berfoto bersama Ketua Umum dan Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah Gunoto Saparie dan Mohammad Agung Ridlo seusai kegiatan Bedah Buku 1830 di Kopi Nako, Semarang, Selasa, 26 Agustus 2025.
Sejarahwan Inggris Prof Dr Peter Carey (kanan) berfoto bersama Ketua Umum dan Sekretaris Umum Satupena Jawa Tengah Gunoto Saparie dan Mohammad Agung Ridlo seusai kegiatan Bedah Buku 1830 di Kopi Nako, Semarang, Selasa, 26 Agustus 2025.

Satupena Jateng Sayangkan Bedah Buku Tanpa Kehadiran Buku

SEMARANG (Ampuh.id) – Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena Jawa Tengah menyayangkan peristiwa Bedah Buku 1830: The Making of Modern Java karya Melissa Sunjaya dan Peter Carey di Kopi Nako, Jangli, Semarang, Selasa, 26 Agustus 2025, tanpa kehadiran buku. Artinya, para hadirin yang menjadi peserta kegiatan tersebut ternyata belum memiliki bukunya.

Ketua Umum Satupena Jawa Tengah Gunoto Saparie mengapresiasi kegiatan literasi yang diselenggarakan berupa bedah buku. Kegiatan tersebut diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah. Narasumber Peter Carey, sejarawan dan Emeritus Fellow Trinity College, Oxford, yang dikenal sebagai pakar Pangeran Diponegoro tersebut tampil sangat cerdas dan argumentatif dan memukau hadirin ketika berbicara tentang buku 1830. Namun tampilnya Peter Carey tersebut tidak diimbangi oleh panitia dengan menyediakan buku bagi seluruh peserta, sehingga diskusi terkesan tidak ada dialog dan interaksi, karena para peserta tidak memiliki bekal apa-apa tentang buku yang dibedah.

“Celakanya, buku kemudian baru diberikan kepada para peserta yang mau pulang karena kegiatan telah selesai. Tentu saja ini sangat mengherankan, apalagi ternyata banyak peserta yang tidak memperoleh jatah buku. Mereka masuk ke ruang sidang dengan kepala kosong. Bedah buku tanpa ada bukunya sungguh aneh,” katanya.

Kepala Perwakilan BI Jateng Rahmat Dwisaputra menekankan pentingnya kesadaran sejarah untuk membangun masa depan bangsa. Transformasi menuju Indonesia Emas 2045 hanya bisa tercapai bila kita sadar sejarah, matang spiritual, dan kritis secara intelektual.

Rahmat menjelaskan, serial bedah buku ini digelar untuk menggali nilai perjuangan dan moralitas Pangeran Diponegoro.

“Kami ingin mendorong peserta membaca reflektif, mengaitkan pemikiran besar dengan kehidupan masa kini, serta menghidupkan budaya literasi kritis dan dialogis,” tambahnya.

Bank Indonesia, demikian Rahmat, ingin menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa transformasi menuju Indonesia Emas 2045 hanya mungkin dicapai apabila manusia Indonesia sadar sejarah, matang secara spiritual, dan kritis secara intelektual.

“Tujuan serial bedah buku ini adalah membangun kesadaran bangsa. Bangsa beradab lahir dari pondasi sejarah, spiritualitas, dan filsafat, menggali nilai-nilai perjuangan dan moralitas Diponegoro untuk menjawab tantangan zaman, mendorong peserta untuk membaca secara reflektif dan mengaitkan pemikiran besar dengan dinamika kehidupan kini. Selain itu juga menghidupkan budaya literasi kritis dan dialogis untuk memperkuat karakter bangsa,” ujarnya.

“Diharapkan forum ini menjadi ruang dialog lintas generasi dalam merumuskan narasi kebangsaan yang lebih inklusif dan berakar pada nilai kemanusiaan,” ujar Rahmat seraya menambahkan, Serial Bedah Buku Bank Indonesia Jateng akan terus berlanjut. Pada seri ketiga mendatang, kita akan berfokus pada jalan filsafat, yang tidak hanya berbicara tentang konsep-konsep abstrak, melainkan juga tentang bagaimana manusia menimbang nilai, mencari arah hidup, dan menguji kebijaksanaan di tengah perubahan zaman.

Dengan refleksi filsafat, menurut Rahmat, kita diajak untuk menyeimbangkan antara rasionalitas, spiritualitas, dan kesadaran sejarah, sehingga bangsa ini dapat benar-benar menapaki jalan menuju peradaban yang berkelanjutan.

Peter Carey menandaskan, buku 1830 sendiri menawarkan sembilan “pisau bedah” yang mengajak pembaca meninjau kembali warisan kolonial dan dampaknya terhadap cara pandang bangsa Indonesia hingga kini. Melalui refleksi sejarah ini, masyarakat diharapkan tidak sekadar mengingat simbol-simbol masa lalu, tetapi juga mengolahnya sebagai pelajaran untuk menghadapi tantangan zaman, termasuk arus digitalisasi dan polarisasi opini di ruang publik.

Kegiatan Bedah Buku 1830: The Making of Modern Java karya Melissa Sunjaya dan Peter Carey tersebut diikuti lebih dari 200 peserta secara langsung, serta disiarkan melalui kanal YouTube BI Jawa Tengah. Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai pejabat daerah, akademisi, mahasiswa, hingga komunitas literasi dan sejarah. Dari Satupena Jawa Tengah hadir, selain Gunoto Saparie sebagai ketua dan Mohammad Agung Ridlo sebagai sekretaris. Sedangkan dari Satupena Kota Semarang diwakili Adnan Ghiffari dan Dewi Tri Nugraheni. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *