Festival Literasi Temanggung Gelar Bedah Buku Gangsingan Imam dan Ulah Bocah Guci Pecah
TEMANGGUNG (Ampuh.id) – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Temanggung menggelar bedah buku cerita anak Gangsingan Imam dan Ulah Bocah Guci Pecah sebagai bagian dari Festival Literasi 2026 pada Minggu (25/10/2026). Kegiatan berlangsung di aula dinas setempat mulai pukul 08.00 WIB.
Bedah buku ini menghadirkan Wiwik Hartati SPd, penulis Gangsingan Imam sekaligus Ketua Satupena Temanggung, dan Ulul Azmi Umaroh SPd, penulis Ulah Bocah Guci Pecah. Diskusi dipandu oleh Joko Prasetyo SPd, guru MTs Negeri 2 Temanggung. Rangkaian kegiatan juga diisi oleh Latifa Khairani HS SIPust, Ketua PD IPI Kabupaten Temanggung, serta Roso Titi Sarkoro yang membahas pelestarian bahasa Jawa.
Dalam pemaparannya, Latifa menyampaikan materi bertajuk “Dari Buku Menjadi Gerakan: Peran Perpustakaan dalam Pelestarian dan Kemajuan Budaya Lokal.” Ia menekankan bahwa perpustakaan memiliki peran strategis dalam menumbuhkan budaya baca sekaligus melestarikan dan mengembangkan budaya daerah.
Menurutnya, perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga dapat menjadi pusat kegiatan budaya yang mempertemukan pengetahuan, tradisi, dan kreativitas masyarakat. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan literasi yang melibatkan masyarakat, generasi muda, penulis, dan komunitas.
Sementara itu, Roso Titi Sarkoro mengangkat pentingnya pelestarian bahasa Jawa di tengah perkembangan zaman. Sebagai penerjemah Gangsingan Imam ke dalam bahasa Jawa, ia turut berkontribusi dalam memperkenalkan bacaan anak yang dekat dengan bahasa dan budaya lokal.
Ia menekankan upaya pelestarian bahasa Jawa perlu dimulai dari keluarga, sekolah, dan komunitas. Penggunaan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari serta penyediaan bacaan anak berbahasa Jawa menjadi langkah penting agar bahasa daerah tetap hidup dan digunakan oleh generasi muda.
Dalam sesi bedah buku, Wiwik Hartati memperkenalkan Gangsingan Imam, buku cerita anak dwibahasa Indonesia–Jawa yang diterbitkan oleh Zahir Publishing pada Maret 2026. Buku ini mengangkat permainan tradisional gangsingan atau gasing serta menyampaikan nilai-nilai persahabatan, kreativitas, ketekunan, kepedulian terhadap lingkungan, dan pencegahan perundungan.
Melalui tokoh Imam, pembaca diajak menghargai teman tanpa memandang latar belakang ekonomi. Cerita tersebut juga mendorong anak-anak mengenal kembali permainan tradisional sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal.
Adapun Ulul Azmi Umaroh membahas Ulah Bocah Guci Pecah, yang mengisahkan Danu ketika menghadapi pilihan antara berbohong dan mengakui kesalahannya setelah memecahkan guci. Cerita ini mengajarkan pentingnya kejujuran, tanggung jawab, keberanian meminta maaf, dan kesediaan untuk saling memaafkan.
Diskusi berlangsung interaktif. Para peserta aktif menyampaikan pendapat, mengajukan pertanyaan, dan menanggapi pemaparan narasumber. Interaksi tersebut menjadikan bedah buku sebagai ruang belajar bersama untuk memahami isi cerita sekaligus mendiskusikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Peserta berasal dari berbagai kalangan, termasuk pelajar dan komunitas literasi. Di antara kelompok yang mengirimkan peserta terbanyak adalah MTs ALMATERA dan komunitas Kulintang dari MAN Temanggung. Kehadiran para pelajar ini turut menyemarakkan kegiatan sekaligus mencerminkan antusiasme generasi muda terhadap literasi dan budaya lokal.
Melalui bedah buku ini, peserta diajak memahami bahwa cerita anak tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga sarana pendidikan karakter, pengenalan bahasa daerah, dan pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.
Bedah buku tersebut merupakan bagian dari Festival Literasi 2026 yang berlangsung pada 21–25 Oktober 2026 dengan tema “Merajut Tradisi dari Ruang Literasi”.
Melalui festival ini, diharapkan terbangun kolaborasi antara perpustakaan, sekolah, penulis, komunitas literasi, dan masyarakat dalam meningkatkan minat baca sekaligus menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya lokal. Merawat tradisi tidak cukup dengan mengenangnya, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, salah satunya dengan membaca, menulis, dan memperkenalkan karya kepada generasi muda. (*)


