Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Dorong Urban Farming di Lahan Terbatas

SEMARANG (Ampuh.id) – Keterbatasan lahan di perkotaan tidak menutup peluang masyarakat untuk memproduksi pangan. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mendorong pengembangan urban farming agar lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara produktif, seperti yang dilakukan kelompok warga di demplot ubi jalar Jalan Payung Mas Raya, RW 12, Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik.

Hal tersebut disampaikan Agustina saat menghadiri panen ubi jalar di lahan percontohan seluas sekitar 1.000 meter persegi itu, Senin (26/10/2026). Panen kali ini merupakan yang ketiga sejak demplot tersebut dikembangkan, setelah dua kali panen pada 2025.

Demplot tersebut memanfaatkan planter bag untuk membudidayakan ubi jalar varietas Sumbawa dan Cilembu. Menurut Agustina, pemanfaatan ruang yang tersedia untuk pertanian perlu terus dikembangkan agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam memenuhi kebutuhan pangan.

“Lahan yang tersedia tetap dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan, asalkan dikelola dengan tepat dan berkelanjutan,” ujar Agustina.

Kota Semarang saat ini memiliki 199 kelompok urban farming dan 105 kelompok tanaman pangan. Agustina mendorong pengembangan kelompok-kelompok tersebut melalui pendampingan agar kegiatan budidaya dapat berjalan lebih produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Selain meningkatkan produksi, Agustina juga menekankan pentingnya diversifikasi pangan dengan memperluas pemanfaatan sumber karbohidrat selain beras, seperti ubi jalar, singkong, dan jagung. Pengembangan komoditas tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memanfaatkan potensi pangan lokal sekaligus memperkaya pilihan konsumsi masyarakat.

Hasil budidaya juga berpeluang memberikan nilai tambah melalui pengolahan dan pemasaran. Ubi jalar, misalnya, dapat diolah menjadi keripik, tepung, kue, dan berbagai produk pangan lainnya. Pengembangan produk olahan membuka peluang usaha bagi masyarakat sekaligus memperluas pemanfaatan hasil panen.

“Ketika produksi pertanian terhubung dengan pengolahan dan pasar, urban farming dapat menjadi bagian dari penguatan ketahanan pangan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Agustina.

Agustina berharap demplot ubi jalar di Pudakpayung dapat menjadi inspirasi bagi kelompok pertanian perkotaan lainnya di Kota Semarang. Ia mendorong masyarakat untuk memanfaatkan potensi lingkungan masing-masing sesuai kondisi lahan dan kemampuan warga, sehingga kegiatan pertanian perkotaan dapat terus berkembang. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *