UMKM Jateng Raup Transaksi Rp 820 Juta di Inacraft 2026, Ekosistem Pembinaan Terus Diperkuat
SEMARANG (Ampuh.id) – Produk UMKM binaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Jawa Tengah mencatatkan capaian membanggakan, di ajang pameran kerajinan terbesar se-Asia Tenggara, The Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2026.
Dalam pameran yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) pada 4 hingga 8 Februari 2026, produk UMKM dan kerajinan asal Jateng berhasil membukukan total transaksi sebesar Rp 820.904.550. Nilai itu terdiri atas penjualan ritel Rp 630.334.550, dan order senilai Rp 190.570.000.
Hal tersebut disampaikan Ketua Dekranasda Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, saat membuka kegiatan Dekranasda Modest & Iftar Festival (D’Modifest) 2026, di Atrium The Park Mall Semarang, Jumat (27/2/2026).
“Alhamdulillah total transaksi selama pelaksanaan pameran Inacraft di Jakarta pada 4 sampai 8 Februari kemarin ini, ada di angka Rp 820.904.550,” ujar istri Wakil Gubernur Jateng itu.
Menurut Nawal, capaian tersebut menunjukkan, kriya unggulan Jateng, mulai dari batik, fesyen, aksesoris, hingga beragam produk kerajinan lain, mendapat sambutan antusias dari pengunjung Inacraft 2026. Hal itu sekaligus menegaskan daya saing produk UMKM Jateng di pasar nasional.
Dia menambahkan, Jateng menjadi salah satu pusat produksi UMKM terbesar di Indonesia. Berdasarkan Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT-UMKM), pada 2025 ada sebanyak 4,45 juta unit UMKM di Jateng.
“Jawa Tengah menjadi yang tertinggi ketiga di Indonesia setelah Jawa Barat yang memiliki 5,4 juta unit UMKM, dan Jawa Timur dengan 4,58 juta unit UMKM,” ungkap Nawal.
Besarnya jumlah itu, lanjutnya, merefleksikan potensi ekonomi yang signifikan. Karena itu, pihaknya terus memperkuat pembinaan kepada para perajin UMKM, agar mampu naik kelas dan go International.
Berbagai bentuk pendampingan telah dilakukan, di antaranya fasilitasi pelatihan digital marketing bagi pelaku UMKM, serta pelatihan ready to wear bagi perancang busana. Upaya itu diarahkan agar produk-produk lokal mampu menembus pasar yang lebih luas dan mengikuti tren industri.
Peningkatan kualitas produk, tuturnya, ditempuh melalui proses kurasi dengan menggandeng Bank Indonesia. Kolaborasi dengan perbankan juga diperkuat dalam membuka akses permodalan, melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Nawal membeberkan, program pembinaan secara berjenjang juga tengah digalakkan, di mana UMKM yang telah mapan turut membina pelaku usaha yang tengah merintis. Selain itu, proses regenerasi perajin juga terus didorong guna menjaga produk unggulan daerah.
Sebagai bagian dari strategi promosi, jelasnya, Dekranasda Jateng secara konsisten mengikutsertakan produk-produk UMKM dalam berbagai expo dan pameran, baik skala regional, nasional, maupun internasional. Langkah itu menjadi upaya konkret untuk memperluas jejaring pasar, sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.
Upaya pemberdayaan UMKM tersebut, kata Nawal, sejalan dengan arahan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin, dalam menggerakkan pertumbuhan ekonomi daerah melalui penguatan sektor ekonomi kreatif.
Dia mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari Dekranasda 35 kabupaten/kota, perangkat daerah, desainer, hingga pelaku UMKM, untuk bersama-sama memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Jawa Tengah.
“Kami mengajak seluruh komponen yang ada, ayo kita sama-sama, kita perlu bekerja keras untuk mengembangkan UMKM dan meningkatkan ekonomi daerah,” pungkas Nawal. (*)


