Sumpah Pemuda Culture Fest 2026 Jadi Wadah Kreativitas Generasi Muda
SEMARANG (Ampuh.id) – Ajang Sumpah Pemuda Culture Fest 2026 yang digelar DPC PDI Perjuangan Kota Semarang di Taman Indonesia Kaya, Semarang, Sabtu malam (31/10/2026), menjadi wadah kreativitas generasi muda.
Tercatat puluhan kelompok peserta mengikuti festival tersebut, terbagi atas 35 sanggar untuk kategori seni tari dan 10 grup untuk kategori grup band.
Ketua panitia kegiatan itu, Lucas Oscara Trisnanda, menyebutkan peserta yang tampil pada babak final malam ini adalah finalis yang telah tersaring.
Untuk kategori seni tari, dari 35 sanggar tari ikut ambil bagian, tersaring enam grup terbaik melaju ke babak final untuk bersaing memperebutkan juara pertama, sedangkan kategori grup band, 19 grup turut berkompetisi, tersisa enam grup band yang tampil pada malam final untuk memperebutkan juara pertama.
Penampilan mereka dinilai langsung oleh dewan juri dari kalangan penggiat seni serta internal pengurus DPC PDI Perjuangan Kota Semarang.
“Kegiatan ini diselenggarakan sebagai ruang ekspresi bagi generasi muda dalam menyalurkan bakat seni, khususnya tari dan musik, sekaligus memperkuat rasa cinta tanah air dan bangsa di momen peringatan Hari Sumpah Pemuda,” katanya.
Seluruh peserta diwajibkan mengusung tema khas Semarangan baik dalam koreografi tari maupun aransemen musik yang dibawakan.
“Melalui Sumpah Pemuda Culture Fest 2026 ini, kami ingin menjadikan seni sebagai wadah positif bagi anak muda untuk terus berkarya, melestarikan budaya lokal, dan bersama-sama memajukan Kota Semarang,” katanya.
Penyelenggaraan festival tersebut diharapkan mampu merawat semangat nasionalisme generasi muda melalui jalur kebudayaan, serta menjadikan ruang-ruang publik di Semarang sebagai pusat aktivitas kreatif yang inspiratif.
Lidya Novitasari dari Kelompok Tari Kamajayaratih SMK Negeri 7 Semarang mengaku motivasi mengikuti ajang tersebut, ingin mencari banyak pengalaman tampil.
“Kami lagi nyari pengalaman buat jam terbang. Kayak di FKO (Forum Komunikasi OSIS) kemarin ikut, terus ini. Kami kompetisi Lomba Tari Kreasi Tradisional yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi OSIS (FKO) Kota Semarang. Kami membawakan Tari Dugderan,” katanya.
Ia menjelaskan Tarian Dugderan merupakan tari kontemporer yang sudah familiar dalam pentas budaya Kota Semarang, bahkan dalam ajang tersebut ada 21 kelompok yang membawakan.
“Dan yang kepilih (masuk final) cuma dua. Kita sama dari Sanggar Sekar Kemuning. Kami tampil berlima satu kelompok,” katanya didampingi Shayna Qurotul Aini, rekannya. (*)


