Prof Hardani: Lingkungan Pengaruhi Ekspresi Emosi

SEMARANG (Ampuh.id) – Mengenali diri sendiri menjadi langkah penting dalam mengelola emosi, terutama ketika menghadapi kemarahan, kekecewaan, maupun tekanan dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan memahami perasaan dan memilih cara mengekspresikannya secara tepat dapat membantu seseorang menghindari reaksi impulsif yang berpotensi merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Hal itu diungkapkan Ketua Senat Universitas Semarang (USM), Prof Dr Hardani Widhihastuti MM Psikolog dalam program Woman Talk Radio USM Jaya Semarang bertajuk ”Perempuan, Emosi, dan Kemarahan: Mengenali, Mengekspresikan, dan Mengelola Emosi”, Selasa (13/10/2026).

Dalam perbincangan tersebut, Prof Hardani mengatakan, setiap individu memiliki karakteristik dan pengalaman yang berbeda dalam merespons suatu keadaan. Faktor lingkungan, pola pengasuhan, serta pengalaman hidup turut memengaruhi cara seseorang mengenali dan mengekspresikan emosinya.

Menurutnya, kemarahan sering kali muncul ketika seseorang menghadapi berbagai persoalan secara berturut-turut. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang kesulitan membedakan apakah dirinya sedang marah, kecewa, sedih, atau sekadar mengalami kelelahan.

Oleh karena itu, seseorang perlu mengenali kondisi dirinya sebelum memberikan respons terhadap suatu permasalahan. Kemampuan mengendalikan diri juga diperlukan agar kemarahan tidak diluapkan secara sembarangan, terutama ketika berada di lingkungan yang tidak tepat.

”Kalau dia bisa menata diri, dia akan refresh dulu, tenangkan dulu, baru dia menyampaikan,” kata Prof Hardani yang juga sebagai Pengurus Ikatan Ibu-Ibu Universitas Semarang.

Dia menekankan pentingnya mengambil jeda ketika emosi mulai meningkat. Menenangkan diri dan mengatur napas sebelum berbicara maupun mengambil keputusan dapat membantu seseorang berpikir lebih jernih sehingga tidak bertindak secara impulsif.

Selain itu, katanya, emosi dan kemarahan merupakan dua hal yang perlu dipahami secara tepat. Emosi mencakup berbagai perasaan, seperti senang, sedih, dan marah. Sementara itu, kemarahan merupakan salah satu bentuk respons yang dapat muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang tidak sesuai dengan harapannya.

”Dalam mengekspresikan kemarahan, seseorang juga perlu mempertimbangkan cara dan tempat yang tepat,” ujarnya.

Menurutnya, perasaan yang muncul sebaiknya tidak langsung diluapkan melalui tindakan atau perkataan yang dapat menyakiti orang lain. Hal tersebut juga berlaku dalam penggunaan media sosial, karena unggahan yang dibuat ketika sedang marah dapat memengaruhi penilaian orang lain terhadap perilaku seseorang.

Sebagai alternatif, emosi dapat disalurkan melalui kegiatan positif, seperti berolahraga, bermusik, menulis, atau menjalankan hobi yang disukai. Cara tersebut dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan perasaan tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.

”Kalau sudah bekerja, ya dialihkan ke pekerjaan yang positif. Kalau mereka seniman, bermusik dan lain sebagainya, olahraga,” ungkapnya.

Dia mengatakan, upaya mengelola emosi perlu dimulai dengan kejujuran dalam mengenali kekurangan diri sendiri. Seseorang perlu bersedia menerima masukan dari orang lain dan melakukan evaluasi terhadap perilakunya, termasuk memahami hal-hal yang sering memicu kemarahan.

Menurutnya, kesediaan untuk memperbaiki diri merupakan langkah awal yang penting dalam proses perubahan.

Namun, proses tersebut juga membutuhkan komitmen karena mengenali dan mengelola emosi bukanlah kemampuan yang selalu dapat dikuasai secara instan.

”Nomor satu sebetulnya mengenali diri sendiri dulu,” ungkapnya.

Melalui program Woman Talk, Radio USM Jaya Semarang menghadirkan ruang diskusi mengenai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, khususnya perempuan dan pengelolaan emosi.

Talkshow itu diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa memahami perasaan, mengendalikan respons, dan mengekspresikan kemarahan secara tepat merupakan bagian penting dari upaya membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri maupun orang lain. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *