CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v62), quality = 55

Kudus Dilanda Banjir dan Longsor, 2.815 KK Terdampak

KUDUS (Ampuh.id) – Bencana hidrometeorologi basah melanda Kabupaten Kudus akibat hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang pada Jumat (9/1/2026) hingga Sabtu (12/1/2026). Dampaknya, sejumlah wilayah di Kudus dilanda banjir, limpasan sungai, serta tanah longsor yang menyebabkan ribuan warga terdampak dan kerusakan infrastruktur.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Djatmiko, menjelaskan hujan ekstrem terjadi sejak pagi hingga malam hari, terutama di wilayah hulu Pegunungan Muria. Kondisi tersebut memicu peningkatan debit Sungai Gelis, Sungai Piji, dan Sungai Dawe secara signifikan.

“Curah hujan sangat tinggi membuat debit sungai naik drastis dan menyebabkan genangan di permukiman serta persawahan. Selain itu, kontur tanah yang labil memicu longsor di sejumlah titik,” kata Eko, Sabtu (10/1/2026).

BPBD Kudus mencatat sebanyak 2.815 kepala keluarga atau 8.834 jiwa terdampak bencana ini. Wilayah banjir meliputi Kecamatan Mejobo, Kota, Jekulo, dan Bae. Ketinggian air bervariasi antara 5 hingga 50 sentimeter, merendam ratusan rumah warga serta puluhan hektare lahan persawahan, terutama di Kecamatan Mejobo.

Sementara itu, tanah longsor terjadi di 20 titik, tersebar di Kecamatan Dawe dan Gebog seperti Desa Japan, Menawan dan Rahtawu. Longsor menutup akses jalan desa hingga jalan kabupaten serta merusak beberapa rumah warga.

Salah satu kejadian paling parah terjadi di Desa Colo, Kecamatan Dawe, di mana jembatan jalur portal menuju kawasan Wisata Ziarah Sunan Muria ambrol sepanjang sekitar 50 meter dengan kedalaman 20 meter. Peristiwa tersebut mengakibatkan dua mobil terperosok ke sungai.

“Alhamdulillah tidak ada korban jiwa. Tiga orang yang sempat terjebak berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, begitu juga dua kendaraan yang masuk sungai,” ujar Eko.

Menurutnya, kondisi banjir di sebagian besar wilayah telah surut pada Sabtu pagi. Pengungsian tidak dilakukan secara permanen, karena dan warga sudah kembali ke rumah masing-masing saat air mulai surut.

Hingga Sabtu (10/1/2026) siang, genangan yang masih terlihat di beberapa wilayah Kecamatan Mejobo seperti Desa, Golantepus, dan Desa Mejobo. Bahkan, genangan air juga masih merendam ruas jalan Kudus-Mejobo dengan ketinggian hingga 50 cm.

BPBD bersama Pemkab Kudus, TNI-Polri, BBWS Pemali Juana, relawan, dan pemerintah desa terus melakukan penanganan darurat, mulai dari pembersihan material longsor, sampah di sungai, assessment dampak, hingga distribusi logistik.

“Kami terus memantau wilayah rawan dan mengimbau masyarakat tetap waspada, terutama yang berada di sekitar bantaran sungai dan lereng perbukitan, karena potensi hujan masih ada,” tegas Eko.

Saat ini, BPBD Kudus terus melakukan pemantauan dan assessment terhadap titik-titik bencana yang ada. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *