Peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid Baitussalam, Ustaz Tali Tulab Syaihun Ajak Perbanyak Shalawat dan Tadabbur Al-Qur’an

SEMARANG (Ampuh.id) – Dalam suasana khidmat memperingati Nuzulul Qur’an pada 17 Ramadan 1447 H, Masjid Baitussalam yang beralamatkan di Jalan Taman Karonsih Raya Kelurahan Ngaliyan, Semarang menjadi pusat kegiatan spiritual yang penuh berkah.

Ratusan jamaah hadir menyaksikan tausiah inspiratif disampaikan oleh Ustaz Tali Tulab Syaihun SAg MSI, dosen FAI Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), menekankan pentingnya meningkatkan iman, memperbanyak shalawat, serta mentadabburi Al-Qur’an sebagai kunci meraih hati yang selamat (qolbun salim).

Acara ini tidak hanya memperkaya pemahaman keagamaan, tetapi juga memperkuat semangat umat Islam di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Nuzulul Qur’an, yang jatuh pada tanggal 17 Ramadan, merupakan momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Peristiwa penurunan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira ini menjadi pengingat akan keagungan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.

Di Indonesia, peringatan ini selalu dirayakan dengan berbagai kegiatan ibadah, mulai dari tadarus massal hingga tausiah yang mendalam. Masjid Baitussalam, sebagai salah satu masjid ikonik di wilayahnya, tak ketinggalan menggelar acara ini untuk mendekatkan jamaah dengan esensi Ramadan.

Tausiah dimulai tepat setelah shalat Isya dan Tarawih berjamaah yang dipimpin oleh Imam Ustadz H Ghozali dengan Bilal Muhammad Miftahul Raheesh. Suasana masjid yang megah, dihiasi kaligrafi indah dan karpet sajadah yang rapi, terasa sangat khidmat. Acara dibuka oleh Pembawa Acara Muhammad Fais, dengan kehadiran Ketua Yayasan Baitussalam Didik Suwarsono, Ketua Takmir Gendro Susilo, serta tokoh masyarakat seperti Mukminun, Masono, Muhammad Saefullah, Mohammad Agung Ridlo, Sigit, dan beberapa tokoh lainnya.

Jamaah dari berbagai kalangan mulai dari anak muda, keluarga, hingga lansia duduk bersila dengan khusyuk, menyimak tausiah dari Ustaz Tali Tulab Syaihun. Dia, yang dikenal dengan penyampaiannya yang sederhana namun mendalam, membuka tausiyahnya dengan mengingatkan, bahwa iman bukanlah sesuatu yang statis

“Iman seseorang bisa bertambah dan berkurang,” tegas Ustaz Tali Tulab Syaihun di awal tausiahnya. Dia merujuk langsung pada Al-Quran, mengutip ayat yang memerintahkan umat untuk terus meningkatkan iman: “Syamilna wa athimna” artinya “Kabulkanlah (perintah Allah) dan taatlah.”

Penekanan ini langsung menyentuh hati jamaah, mengajak mereka untuk tidak puas dengan ibadah rutinitas semata, melainkan terus berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam konteks Ramadan yang penuh berkah, pesan ini menjadi pengingat bahwa bulan suci ini adalah kesempatan emas untuk ‘recharge’ spiritual.

Lebih lanjut, Ustaz menyoroti amalan sederhana namun luar biasa pahalanya: memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. “Memperbanyak shalawat adalah perintah langsung dari Rasulullah SAW, terutama pada hari dan malam Jumat,” jelasnya.

Dia menjelaskan satu kali bershalawat akan dibalas sepuluh kali lipat oleh Allah SWT. Manfaatnya tak terhitung: menghapus dosa-dosa kecil, mengangkat derajat di sisi-Nya, mempermudah hajat hidup, dan mendatangkan keberkahan di dunia serta akhirat.

“Shalawat bukan sekadar ucapan, melainkan wujud cinta kita kepada Baginda Nabi yang membuka pintu rahmat Allah,” tambahnya.

Ustaz Tali Tulab Syaihun juga menggambarkan shalawat sebagai obat mujarab untuk jiwa. “Sering-seringlah bershalawat, karena ini dapat membersihkan hati kita dari kotoran duniawi.”

Amalan ini, kata dia, memberikan ketenangan batin, menjernihkan pikiran, dan melindungi dari godaan syaitan.

Dalam era digital saat ini, di mana hati sering terganggu oleh media sosial dan tekanan hidup, shalawat menjadi benteng yang kokoh. Jamaah yang hadir pun langsung mempraktikkannya, melafazkan shalawat bersama-sama, menciptakan harmoni yang menghangatkan suasana masjid.

Acara semakin khidmat saat Ustaz memimpin doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar diberikan “qolbun salim”, hati yang bersih dan sehat. “Hati yang tidak berpenyakit, tidak sombong, tidak iri, tidak bergosip (ghibah), dan tidak dengki,” terang beliau.

Tak berhenti di situ, Ustaz juga membahas syafaat Nabi Muhammad SAW bagi umatnya yang rajin membaca Al-Quran. “Sepertiga pertama syafaat Baginda Rasul untuk umatnya yang membaca Al-Quran, dan kita bisa menambah lagi hingga seluruhnya,” katanya, merujuk pada hadits shahih. Ini menjadi motivasi kuat bagi jamaah untuk giat tadarus di bulan Ramadan.

Selain itu, dia menjelaskan keutamaan Lailatul Qodar, malam diturunkannya Al-Qur’an yang setara dengan seribu bulan. “Kita harus berusaha mendapatkan Lailatul Qodar dengan beribadah qiyamul lail,” ajaknya, menekankan pentingnya bangun malam untuk shalat dan doa.

Puncak tausiah adalah penjelasan tentang tadabbur Al-Qur’an, tingkatan tertinggi dalam berinteraksi dengan wahyu Ilahi. “Seseorang yang membaca Al-Qur’an akan membuat orang tuanya mendapatkan pahala, serta mereka akan memakaikan orang tuanya dengan mahkota dari cahaya di akhirat kelak,” ujar Ustaz dengan nada penuh haru.

Pesan ini tak hanya pribadi, tapi juga familial, mengajak jamaah untuk berbagi berkah Al-Qur’an dengan keluarga. Di akhir, beliau menutup dengan doa agar umat Islam senantiasa istiqamah dalam mengamalkan ajaran ini.

Mengakhiri tausiah beliau berharap semoga Masjid Baitussalam berkomitmen melanjutkan kegiatan serupa, termasuk kajian mingguan dan program tadabbur Al-Qur’an pasca-Ramadan. “Mari jadikan Nuzulul Qur’an sebagai titik awal transformasi spiritual kita semua,” pungkas Ustaz Tali Tulab Syaihun. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *