Kiai Sun Djok San Kritik Forum Jateng Gayeng Lewat Puisi
SEMARANG (Ampuh.id) – Tokoh LDII Jawa Tengah, Kiai Sun Djok San melontarkan kritik tajam terhadap Forum Jateng Gayeng (FJG) dalam acara Pengajian Fadhilah Pancasila yang digelar di Markas Kampung Pancasila, Genuksari, Genuk, Kota Semarang, Selasa malam (5/5/2026).
Pengajian tersebut diselenggarakan oleh Forum Kiai Santri Pancasila (FKSP) yang dipimpin Kiai Achmad Robani Albar. Acara dihadiri sejumlah tokoh agama, aktivis ormas, pegiat kebangsaan, serta kalangan santri dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
Dalam kesempatan itu, Sun Djok San yang juga Ketua Dewan Syuro FKSP tidak menyampaikan kritik secara langsung melalui pidato politik ataupun pernyataan terbuka, melainkan melalui pembacaan puisi berjudul “Forum Jateng Gayeng”. Puisi tersebut menggambarkan FJG sebagai kapal besar yang selama hampir 15 tahun berlayar membawa banyak organisasi masyarakat dengan beragam ideologi dan kepentingan.
Melalui metafora kapal Nabi Nuh, Sun Djok San menilai FJG pernah menjadi ruang besar yang mampu menampung berbagai elemen masyarakat sipil di Jawa Tengah. Namun menurutnya, forum tersebut kini mengalami stagnasi, kehilangan energi gerakan, dan berjalan lamban di tengah perubahan iklim politik serta sosial.
Dalam bait puisinya, ia juga menyindir banyaknya perdebatan internal di tubuh organisasi tersebut yang dinilai kaya gagasan namun miskin dukungan finansial. Kritik lain diarahkan pada kondisi forum yang dianggap kehilangan arah dan membutuhkan pembaruan, baik secara konsep maupun identitas kelembagaan.
“Puisi ini adalah kritik moral dan kritik kebudayaan. Jangan dimaknai sebagai kebencian, tetapi sebagai pengingat agar organisasi-organisasi masyarakat tetap hidup, kreatif, dan berpihak pada rakyat,” ujar salah seorang peserta pengajian usai pembacaan puisi.
Suasana pengajian malam itu berlangsung khidmat namun penuh refleksi. Sejumlah peserta tampak mengangguk ketika bait-bait puisi dibacakan dengan nada satiris dan kontemplatif. Beberapa tokoh yang hadir menilai kritik tersebut merupakan bentuk keprihatinan terhadap melemahnya solidaritas antarormas di Jawa Tengah.
Ketua FKSP Kiai Achmad Robani Albar dalam sambutannya menegaskan Pengajian Fadhilah Pancasila memang menjadi ruang terbuka bagi berbagai pandangan kritis selama disampaikan secara santun dan beradab.
“Pancasila harus dirawat dengan dialog, kritik, dan keberanian menyampaikan kegelisahan sosial. Ulama dan tokoh masyarakat jangan hanya diam melihat keadaan,” katanya.
Dalam puisi tersebut, Sun Djok San menggambarkan Forum Jateng Gayeng sebagai kapal besar layaknya kapal Nabi Nuh yang telah lama berlayar membawa banyak organisasi masyarakat dengan beragam warna pemikiran. Meski memiliki semangat besar dan cita-cita mewujudkan Jawa Tengah yang sejahtera dan berkeadilan, forum itu dinilai menghadapi banyak persoalan internal.
Keberagaman idealisme membuat forum sering dipenuhi perdebatan, sementara kemampuan ekonomi organisasi dinilai lemah sehingga aktivitas berjalan serba terbatas. Kini, kapal besar itu digambarkan berjalan lambat, seolah mengalami kejenuhan dan kehilangan tenaga penggerak.
Melalui sindiran tentang perlunya “ruwatan”, pergantian logo, hingga perubahan nama, penyair ingin menyampaikan bahwa FJG membutuhkan pembaruan agar mampu bertahan menghadapi perubahan politik dan sosial. Meski demikian, di akhir puisinya Sun Djok San tetap menyampaikan harapan agar FJG tetap mampu berkarya bagi masyarakat Jawa Tengah.
Berikut puisi lengkap Sun Djok San yang dibacakan dalam forum pengajian tersebut.
FORUM JATENG GAYENG
Bagaikan karya Nabi Nuh,
Kapal besar itu bernama Forum Jateng Gayeng
Melaju hampir 15 tahun mengarungi samudra tak pernah berlabuh
Membawa muatan ratusan ormas yang tidak mudah patuh
Dilengkapi warna warni ratusan idealisme
Kaya pendapat sehingga sering berdebat
Tapi miskin pendapatan sehingga semuanya pas-pasan.
Adalah pemandangan langka, sebuah kapal besar
dilengkapi ratusan bendera ormas beribar
Di tengah layar ada tulisan besar, terbaca:
Wujudkan Jateng Sejahtera Berkeadilan….
Tetapi
Kapal besar itu kini berjalan pelan
Seperti ada wabah kejenuhan
Mungkin menunggu angin kencang buritan
Atau menunggu ruwatan-ruwatan dengan mantra-mantra keajaiban
Bilamana perlu ganti logo dan nama yang lebih menggelitik
Agar tdk terombang ambing iklim politik..
Selamat membelah gelombang ombak dan badai FJG
Jawa Tengah menunggu karyamu… (*)


