Satu Pena Temanggung Gelar Mini Workshop Literasi di Pondok Pesantren Al Sunniyah

TEMANGGUNG (Ampuh.id) – Komunitas Satu Pena Temanggung menggelar Mini Workshop Literasi bertema “Membangun Budaya Literasi melalui Nilai-Nilai Surah Al-Alaq” di Pondok Pesantren Al Sunniyah, Candimulyo, Kedu, Temanggung, Selasa (7/7/2026). Kegiatan ini diikuti para santri dan santriwati sebagai upaya menumbuhkan budaya membaca dan menulis sejak dini.

Workshop menghadirkan dua narasumber, Muhisom Setiaki dan Wahyu Ningsih, dengan Heni Susilowati sebagai moderator. Hadir pula Pengarah Satu Pena Temanggung Roso Titi Sarkoro,Mukhamad Bayu Aji Tolafudin serta Nuris Fatmawati.

Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Satu Pena Temanggung, Wiwik Hartati, yang memperkenalkan berbagai program gerakan literasi yang telah dijalankan komunitas tersebut di Kabupaten Temanggung. Dalam kesempatan itu, ia juga secara resmi membuka kegiatan workshop.

Selanjutnya, Kepala PKBM Al Sunniyah, Saefullah Thaher ST MSc menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, literasi merupakan jembatan ilmu yang wajib dipelajari setiap insan.

“Sejak dahulu, literasi telah menjadi fondasi lahirnya karya-karya ilmiah, pemikiran filsafat, hingga berkembangnya ilmu pengetahuan dan ilmu agama,” ujarnya.

Pada sesi pertama, Muhisom Setiaki mengupas konsep literasi dalam perspektif Al-Qur’an, khususnya melalui kandungan Surah Al-Alaq. Ia menjelaskan bahwa perintah membaca dalam surah tersebut menjadi landasan utama bagi umat Islam untuk terus belajar, berpikir kritis, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Muhisom juga menekankan budaya literasi perlu dibangun mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, hingga menjadi kesadaran pribadi. Untuk memperkuat pemaparannya, ia menyinggung kontribusi para ilmuwan dan filsuf Muslim yang melahirkan berbagai disiplin ilmu, seperti matematika, antropologi, kedokteran, dan bidang keilmuan lainnya.

Sementara itu, pada sesi kedua, Wahyu Ningsih memberikan materi tentang teknik menulis cerita pendek (cerpen). Ia menjelaskan cerpen merupakan karya sastra yang dibangun melalui rangkaian peristiwa, tokoh, konflik, dan penyelesaian yang disusun berdasarkan kreativitas dan imajinasi penulis.

Setelah penyampaian materi, para peserta mengikuti praktik menulis cerpen dengan tema “Bangun Pagi”. Melalui latihan tersebut, para santri diajak menuangkan pengalaman dan gagasan menjadi sebuah karya tulis yang utuh.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, para santri aktif mengajukan pertanyaan seputar budaya literasi maupun teknik penulisan cerpen kepada para narasumber.

Sebagai bentuk apresiasi, pihak Pondok Pesantren Al Sunniyah menyerahkan cenderamata kepada Komunitas Satu Pena Temanggung atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ahmad SSos.

Melalui mini workshop ini, Satu Pena Temanggung berharap semangat membaca, menulis, dan berkarya dapat terus tumbuh di lingkungan pesantren, sehingga budaya literasi semakin mengakar dan menjadi bagian dari kehidupan generasi muda. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *