Tingkatkan Literasi Masyarakat, Pekalongan Gelar Festival Literasi Ayo Membaca

PEKALONGAN (Ampuh.id) – Festival Literasi Ayo Membaca 2025 digelar di GOR Jetayu Kota Pekalongan, Kamis-Rabu (6-11 Oktober 2025). Tak hanya pameran buku, kegiatan itu juga diisi dengan berbagai lomba literasi, bazar UMKM, pelatihan menulis, dan pertunjukan seni.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto, menyampaikan pentingnya penguatan budaya literasi di tengah masyarakat. Menurutnya, literasi merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban bangsa.

“Literasi adalah pondasi utama membangun peradaban dan kemajuan bangsa. Bangsa yang literat akan tumbuh menjadi bangsa yang kritis, kreatif, terbuka, dan tidak mudah terseret arus misinformasi,” bebernya.

Ia menegaskan, penguatan literasi bukan hanya tanggung jawab lembaga pendidikan, tetapi tugas bersama pemerintah, masyarakat, komunitas, hingga keluarga.

Festival ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara pelajar, guru, penulis, pegiat literasi, pelaku seni, dan masyarakat untuk mengekspresikan karya serta memperkaya pengetahuan lokal dan nasional.

Ia menyoroti derasnya arus informasi di era digital. Dengan banyaknya informasi yang tidak tervalidasi, kemampuan literasi digital menjadi semakin penting.

“Masyarakat harus mampu memilah dan memahami informasi dengan bijak agar tidak terpengaruh hoaks maupun ujaran kebencian. Literasi digital menjadi benteng bagi masyarakat yang cerdas dan tangguh,” tandasnya.

Pihaknya terus mengintegrasikan budaya literasi melalui penguatan perpustakaan, pengembangan literasi digital, kegiatan berbasis komunitas, hingga penguatan kualitas pendidikan.

Bunda Literasi Kota Pekalongan, Inggit Soraya mengungkapkan apresiasi atas terselenggaranya festival yang sudah menjadi agenda tahunan tersebut.

“Alhamdulillah Dinarpus bisa kembali menyelenggarakan festival literasi. Ini adalah ruang untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat bahwa literasi itu penting untuk meningkatkan kualitas SDM Kota Pekalongan,” ungkapnya.

Tak Sekadar Seremonial

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kota Pekalongan, Mahbub, mengatakan, rangkaian program literasi tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi langkah untuk memperbaiki budaya minat baca dan indeks literasi di masyarakat.

“Festival Literasi merupakan rangkaian kegiatan untuk meningkatkan budaya minat baca masyarakat Kota Pekalongan. Ini bagian dari upaya membangun indeks literasi masyarakat secara berkelanjutan,” katanya.

Dijelaskan Mahbub, pergerakan indeks literasi Kota Pekalongan tergolong cepat dan menonjol. Pada 2021, Kota Pekalongan berada di peringkat 33 dari 35 kab/kota se-Jawa Tengah, tahun 2022 naik ke peringkat 13, lalu 2023–2024 melaju di peringkat 4 besar.

“Kami berharap di tahun 2025 nilai bisa kembali meningkat. Semua ini berkat dukungan masyarakat, Bunda Literasi, organisasi masyarakat, pegiat literasi dan berbagai pihak yang terlibat dalam ekosistem literasi,” jelasnya.

Selain itu, capaian angka budaya membaca juga terus meningkat dan bahkan melampaui target, yakni 33,49 pada 2022, 33,44 pada 2023, dan 34,11 pada 2024. Indeks gemar membaca juga mengalami kenaikan, yakni dari 20,15 pada menjadi 80,67 pada 2024. Kenaikan tersebut menandakan masyarakat makin dekat dengan dunia membaca, bukan hanya melalui buku fisik, tetapi juga literasi digital.

Ia menambahkan, Festival Literasi Ayo Membaca 2025 sekaligus menjadi upaya menghadirkan literasi dalam bentuk yang menyenangkan, edukatif, dan bisa diakses berbagai kelompok masyarakat. Tahun ini festival menghadirkan 52 stan, terdiri dari OPD, Dekranasda, UMKM kreatif, dan penerbit, festival kuliner, pameran buku, dan multiproduk, lomba-lomba literasi dan talkshow edukatif, serta gerakan ayo membaca dengan seribu peserta.

Menurutnya, konsep wisata literasi ini dirancang agar masyarakat menjadikan membaca sebagai aktivitas yang akrab, menarik, dan bersifat rekreatif.

Kepala Dinarpus Provinsi Jawa Tengah, Rahma Nurhayati, memberikan apresiasi atas capaian Kota Pekalongan yang dianggap berhasil menggerakkan masyarakat. melalui perpustakaan dan ruang publik berbasis literasi.

“Ini bukti konkret komitmen Pemkot Pekalongan. Perpustakaan telah menjadi media forum untuk meliterasi masyarakat, meningkatkan kapasitas SDM, dan membangun ekosistem literasi berkelanjutan,” tuturnya.

Pemprov Jateng, ujarnya terus mendorong daerah untuk mengembangkan literasi digital, meningkatkan SDM pengelola literasi, berkolaborasi dengan sekolah, komunitas, serta lembaga pemerintah maupun nonpemerintah, dengan sasaran mulai usia dini, pelajar, hingga masyarakat umum. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *