Pelaksanaan Program FIND4S Indonesia Dinilai Sudah Sangat Baik
BELGIA (Ampuh.d) – Delegasi dari Universitas Semarang (USM), Prof Dr Ir Rohadi MP mengatakan, menanggapi paparan implementasi, evaluasi dan keberlanjutan program FIND4S Indonesia yang telah disampaikan oleh masing-masing perwakilan dari 7 kampus di Kota Semarang yang memiliki program studi bidang pangan, tim review eksternal (external advisor) menyimpulkan bahwa pelaksanaan program FIND4S Indonensia yang sumber pendanaannya dari konsorsium Erasmus Plus sudah sangat baik.
Namun demikian, tim memberikan beberapa rekomendasi sebagai bahan pertimbangan untuk kelanjutan program antara lain masing-masing universitas harus lebih banyak staf bergelar doktor, memiliki spesialisasi, fokus pada kekuatan sendiri dan jangan menduplikasi serta perbaikan mentalitas.
”Hal tersebut, mengingat ada keragaman tingkat kualitas diantara kampus,” katanya.
Namun demikian, katanya, pesan Prof Jan FM Van Impe, selaku Koordinator Projek dari Konsorsium Erasmus Plus untuk tidak meninggalkan siapa pun.
Semua anggota FIND4S Indonesia harus saling membantu, mengisi dan menyelaraskan program. Jangan Undip saja yang maju.
”Undip bisa bekerja sama dengan kampus manapun anggota untuk berbagai program dalam upaya peningkatan kapasitas program studi,” ujarnya.
Sementara Prof. Torstein Skara dari Nofima Norwegia, sebuah lembaga penelitian pangan untuk industri akuakultur, industri perikanan, dan industri pangan, mengatakan laporan para peserta sudah bagus dan tidak perlu diragukan lagi.
Terkait rencana pendirian program studi magister pangan teknologi pangan pada dua kampus (Undip dan USM), Prof. Tiny van Boekel dari WUR-Wageningen University & Research (WUR), Belanda menyampaikan perlu melibatkan industri makanan, pemerintah, LSM, dan pelaku industri.
Disamping itu diperlukan ilmu pengetahuan komprehensif termasuk tidak hanya teknologi tetapi juga ilmu dan perilaku konsumen pada struktur kurikulum.
”Dalam pengamatannya belum ada universitas anggota FIND4S Indonensia yang berkolaborasi dengan industri yang lebih besar, hanya UKM,” ungkapnya.
Prof Tiny mengatakan, universitas juga harus memiliki pusat pengembangan karier atau sejenisnya. Dosen dan mahasiswa perlu terlibat dalam program pengembangan karir. Mahasiswa mungkin memiliki ide bagus dalam perbaikan kurikulum.
”Kami memiliki program lokakarya daring dan kuliah tamu, kunjungan studi, dan pembelajaran standar,” katanya sambil menekankan dalam pengamatannya bahasa Inggris masih menjadi kendala.
Sedangkan menurut pengamatan Moez Sanaa, Founder & CEO, International Food Risk Analysis Consortium (IFoRAC), Perancis bahwa program studi magister memiliki ruang kolaborasi untuk membuat Sistem Pangan dengan universitas dan lembaga lain.
Hal ini terkait dengan program SDGs dari PBB, yang tentu diadopsi oleh masing-masing negara.
”Sistem Pangan, tidak cukup sektor tradisional untuk didanai.Yang diajarkan pada program magister adalah cara mereka berpikir,” tuturnya.
Hal senada dikatakan atase Kedutaan Besar RI Bidang Pertanian di Belgia dan Uni Eropa, Winarti Halim. Menurutnya, pemerintah saat ini menyediakan 35% anggaran untuk program makan bergizi gratis (MBG), sehingga perlu dilakukan training, pendidikan kepada mereka yang terlibat oleh universitas.
”Ketersediaan data (big data) untuk bidang pendidikan sangat perlu, dan itu dimulai dari pendidikan,” tandasnya. (*)


