Narasumber Indah Kurnita Sari (kiri) didampingi oleh moderator Heni Susilowati dan Ketua Satupena Kabupaten Temanggung Wiwik Hartati.
Narasumber Indah Kurnita Sari (kiri) didampingi oleh moderator Heni Susilowati dan Ketua Satupena Kabupaten Temanggung Wiwik Hartati.

Workshop Satupena Temanggung, Kondisi Bahasa Ibu Kian Memprihatinkan

TEMANGGUNG (Ampuh.id) – Semangat literasi terus digelorakan oleh Satupena Kabupaten Temanggung. Kali ini, mereka menggelar mini workshop bertajuk “Peran Bahasa Ibu di Era Modern” yang bertempat di Yayasan Pondok Pesantren Miftakhul Mubtadiin Montessori Temanggung, Minggu (19/4/2026). Acara ini berhasil memikat antusiasme para peserta yang hadir dari lingkungan madrasah dan pesantren.

Narasumber utama, Indah Kurnita Sari, dalam paparannya menyoroti kondisi bahasa ibu yang kian memprihatinkan di era digital. Menurutnya, bahasa ibu saat ini semakin terkikis oleh penggunaan bahasa gaul maupun pergeseran ke bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari di lingkup keluarga.

“Bahasa ibu adalah identitas. Di zaman digital ini, posisinya semakin kritis. Padahal, bahasa ibu memiliki keindahan yang luar biasa, terutama jika dituangkan ke dalam karya sastra seperti geguritan,” ujar Indah.

Apresiasi tinggi datang dari pihak tuan rumah. Aris Masrukhin mewakili Pondok Pesantren Miftakhul Mubtadiin Montessori menyambut hangat inisiatif Satupena Temanggung yang memilih tema tersebut. Ia menilai materi ini sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan di madrasah.

“Bahasa ibu merupakan pondasi sekaligus benteng warisan budaya yang harus kita jaga bersama. Kehadiran Satupena memberikan wawasan baru bagi santri dan siswa kami,” tegas Aris.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Satupena Temanggung Wiwik Hartati yang turut hadir memberikan pesan mendalam bagi para generasi muda. Ia menekankan keberlangsungan sebuah budaya sangat bergantung pada kemampuan adaptasi tanpa meninggalkan akar aslinya.

“Budaya yang bertahan adalah budaya yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan jiwanya. Sebagai tunas bangsa, pemuda harus menyalakan api semangat untuk memupuk budaya ini agar tetap lestari hingga akhir zaman,” tutur Wiwik.

Diskusi yang dipandu oleh moderator Heni Susilowati yang juga pengurus Satupena Temanggung berlangsung dinamis dan interaktif, membuat peserta tetap bersemangat hingga akhir sesi. Sebagai penutup yang menyentuh, Ulul Azmi membacakan sebuah puisi berjudul “Tangis Semesta” karya Indah Jemprit (Indah Kurnita Sari), yang menambah kekhidmatan suasana.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh sejumlah pegiat literasi, penulis lokal pengurus dan sejumlah anggota Satupena Kabupaten Temanggung di antaranya novelis muda Rizqie Al Hidayah dan Lutfiyani, yang turut memberikan dukungan moral bagi gerakan literasi di kabupaten ini. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *