IKN Jajaki Pipa Resapan Horizontal, Inilah Solusi dari Dosen USM
SEMARANG (Ampuh.id) – Upaya menjadikan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai kota berkelanjutan terus diperkuat. Salah satunya melalui pemanfaatan Pipa Resapan Horizontal (PRH), inovasi teknologi konservasi air tanah yang dipaparkan dalam kegiatan ekspos di Kantor Otorita IKN, Nusantara, Kalimantan Timur, Selasa (3/2/2026).
Kegiatan yang digelar secara luring dan daring ini dibuka oleh Direktur Perencanaan Mikro Otorita IKN, Mirwansyah Prawiranegara ST MSc dan dihadiri jajaran deputi serta para direktur Otorita IKN.
Hadir pula Deputi Bidang Perencanaan dan Pertanahan Otorita IKN, Mia Amalia ST MSi PhD bersama pimpinan dan perwakilan LPPM Universitas Semarang (USM).
Dalam sambutannya, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Semarang (LPPM USM), Prof Dr Ir Mudjiastuti Handajani MT menegaskan peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan nasional melalui riset terapan.
Menurutnya, inovasi PRH merupakan hasil pengembangan akademik yang dirancang untuk menjawab persoalan nyata di kawasan perkotaan, khususnya banjir dan penurunan cadangan air tanah.
Pemaparan utama disampaikan oleh Dr Ir Edy Susilo MT, dosen Fakultas Teknik USM sekaligus inventor PRH. Dalam paparannya Edy menjelaskan, PRH bekerja dengan meresapkan air hujan kembali ke dalam tanah melalui pipa berlubang yang ditanam secara horizontal, sehingga air tidak seluruhnya dialirkan ke saluran drainase, tetapi disimpan sebagai cadangan air tanah.
”Dengan PRH, limpasan permukaan dapat dikurangi, sementara pengisian air tanah tetap berjalan. Ini penting untuk kawasan perkotaan yang lahan terbukanya semakin terbatas,” kata Edy.
Dia mengatakan, PRH memiliki fungsi ganda, yakni mereduksi genangan dan banjir saat hujan lebat serta menjaga ketersediaan air tanah pada musim kemarau. Teknologi ini telah diterapkan di berbagai lokasi, khususnya di Kota Semarang dan sekitarnya, dengan ratusan unit terpasang di kawasan rawan banjir, permukiman, hingga ruang publik.
Dalam diskusi, para peserta juga menyoroti pentingnya keterpaduan teknologi resapan dengan kebijakan tata ruang. PRH dinilai dapat memperkuat konsep jejaring hijau dan biru, yaitu keterhubungan antara ruang terbuka hijau, koridor drainase alami, serta tampungan-tampungan air seperti kolam retensi dan embung.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip perencanaan kota spons (sponge city), di mana kawasan terbangun tetap mampu menyerap, menahan, dan mengelola air hujan secara alami.
Melalui kegiatan ini, Otorita IKN memperoleh gambaran awal mengenai PRH sebagai solusi teknis yang dapat diintegrasikan dalam perencanaan drainase, ruang terbuka hijau, dan pengelolaan air hujan. Ke depan, inovasi ini berpotensi mendukung terwujudnya IKN sebagai kota yang tangguh terhadap banjir, hemat air, dan berkelanjutan. (*)

