Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Bahas Budidaya Maggot dan Pemanfaatan Biodekomposer di TPA Jatibarang
SEMARANG (Ampuh.id) – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mencari upaya penyelesaian soal sampah organik di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang melalui budidaya maggot dan pemanfaatan biodekomposer. Upaya ini diarahkan untuk mengurangi timbunan sampah organik sekaligus mengembangkan pemanfaatan limbah yang memiliki nilai guna.
Bersama formulator biodekomposer Mangontang Simanjuntak di Ruang Rapat Wali Kota Semarang, Senin (19/10). Salah satu gagasan yang dibahas ialah pengembangan unit pengolahan maggot terpusat di kawasan TPA Jatibarang, sehingga sampah organik dapat diolah menjadi sumber pakan alternatif bagi peternakan ayam dan perikanan.
Agustina menilai pengembangan pengolahan sampah membutuhkan skema pembiayaan yang melibatkan berbagai pihak. Dengan demikian, penyediaan sarana dan pengembangan pengolahan tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran daerah.
“Saya ingin membiasakan bahwa creative financing membuat kita tidak harus menggunakan APBD. Kita bisa menggerakkan banyak pihak,” ujar Agustina.
Melalui gagasan tersebut, TPA Jatibarang diharapkan dapat mengembangkan fungsi pengolahan sampah organik yang terhubung dengan kegiatan produktif masyarakat. Maggot yang dihasilkan direncanakan menjadi salah satu sumber pakan bagi penerima bantuan ayam dan sektor perikanan, sekaligus membuka peluang pengembangan usaha berbasis pengolahan sampah.
“Kalau TPA Jatibarang itu bisa jadi pabrik maggot, maka kita bisa menciptakan offtaker untuk mengirimkan maggot ini kepada minimal orang-orang yang selama ini diberi bantuan ayam,” jelas Agustina.
Selain budidaya maggot, pembahasan juga mencakup penggunaan biodekomposer untuk membantu penguraian sampah organik serta penanganan bau dan limbah cair di TPS dan TPA Jatibarang. Pemanfaatan cairan lindi sebagai bahan pupuk hayati turut dibahas sebagai salah satu alternatif pengolahan hasil samping sampah untuk sektor pertanian.
Mangontang Simanjuntak menilai pengelolaan sampah perlu dikaitkan dengan manfaat ekonomi agar masyarakat terdorong untuk terlibat. Menurutnya, sampah organik dari rumah tangga berpotensi menjadi bahan baku kegiatan produktif apabila tersedia sistem pengolahan dan pemanfaatan hasilnya.
“Mindset kita paling utama soal sampah. Tapi sampah ini tidak akan bisa kita kerjakan kalau tidak ada ekonominya. Maka kita harus menciptakan ekonomi, salah satunya adalah dengan kandang 5 ekor tadi,” kata Mangontang.
Dalam audiensi tersebut, Mangontang menyerahkan benih padi varietas MSP 65 kepada Pemerintah Kota Semarang untuk ditanam percontohan atau denplot di kota semarang dengan masa panen atau genjah 60 hari. Uji coba ini direncanakan memanfaatkan pupuk hayati dari hasil olahan limbah sebagai bagian dari upaya menghubungkan pengelolaan sampah dengan kebutuhan pertanian.
Agustina berharap pengembangan pengolahan sampah di TPA Jatibarang dapat berjalan seiring dengan upaya mengurangi timbunan sampah dan memperluas pemanfaatan limbah organik. Pelaksanaan gagasan tersebut memerlukan persiapan sarana, pengujian teknologi, dan skema kerja sama agar penanganan sampah dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan. (*)


