Tak Ada Gejolak Psikologis dalam Novel ‘Kolam Susu’
SEMARANG (Ampuh.id) – Pembaca tidak merasakan gejolak psikologis dari tokoh-tokoh yang ada dalam novel “Kolam Susu” karya Sulis Bambang terbitan Kosakata Kita, Jakarta, 2025 ini. Pembaca yang ingin mengetahui batin dan perasaan tokoh tidak mungkin menemukannya. Setiap tokoh diceritakan berjalan begitu saja sesuai kehendak penulis sebagai dalang.
Hal itu dikemukakan oleh Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang (Dekase) Imaniar Yordan Christy Ketika membahas buku novel “Kolam Susu” karya Sulis Bambang di Lantai Dasar Gedung Teater Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Sabtu, 12 Juli 2025. Diskusi buku merupakan salah satu rangkaian kegiatan Reuni Sastra 2025 yang diselenggarakan oleh Bengkel Sastra Taman Maluku Semarang dan Satupena Jawa Tengah serta didukung oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang. Kegiatan lain adalah ulang tahun ke-9 Bengkel Sastra Taman Maluku ditandai dengan pemotongan tumpeng.
Menurut Imaniar, kita tidak tahu bagaimana tokoh Menur dalam novel tersebut menjalani hari-harinya yang sakit dan buruk. Apa yang ia rasakan ketika ia harus diduakan. Bagaimana sesungguhnya kerelaan hatinya sebagai perempuan. Pembaca hanya diminta menerima begitu saja mulusnya poligami ini.
Imaniar mengatakan, Trimensa, laki-laki yang dimanjakan Sulis Bambang, beruntung memiliki istri yang ikhlas seperti Menur. Selain ikhlas, menur yang ternyata kaya raya tidak menuntut biaya hidup yang seharusnya ditanggung oleh suami. Menur membiayai hidupnya dan anak-anak di Singapura. Pada halaman 37 kita membaca pernyataan Trimensa: “Menur, aku mungkin tidak bisa memberi banyak untuk biaya hidup kalian di Singapura, aku tahu seratus juta pasti tidak akan cukup.” Trimensa menarik nafas panjang lalu melanjutkan, “Kalau keadaan memungkinkan aku pasti akan memberi lebih.”
Yang membuat pembaca heran, demikian Imaniar, adalah jawaban Menur mendengar pernyataan itu. “Nggak apa-apa Mas, soal itu tidak usah menjadi beban pikiran Mas Tri. Dari perkebunan sawit aku sudah mendapatkan lebih dari cukup untuk berobat, biaya hidup, dan sekolah anak-anak kita.” Trimensa terbebaskan dari tanggung jawab nafkah dan dia boleh meikah lagi untuk mendapatkan kepuasan dan pelayanan.
Imaniar menambahkan, Yeyen, istri kedua, selain cantik dan menarik, dia juga perempuan mandiri. Dia bekerja dan bisa memenuhi kebutuhan hidup sendiri. Dia menolak dibelikan rumah oleh Trimensa. Namun sekali lagi, pembaca tidak melihat perkembangan psikologis dari tokoh Yeyen. Bagaiman gejolak perasaannya yang terdalam ketika jatuh cinta, ketika tahu bahwa laki-laki itu telah beristri, dan bagaiman ketika ia harus berbagi suami.
“Sulis Bambang hanya menjelaskan permukaan cerita. Yeyen seorang perempuan yang pernah mengalami hal buruk di pernikahan sebelumnya. Bertemu Trimensa adalah sebuah keberuntungan. Karena keberuntungan itu, Yeyen tidak banyak menuntut pada Trimensa. Sekali lagi Trimensa menjadi tokoh yang semakin dimanjakan,” ujarnya.
Imaniar mengajak pembaca untuk mengingat buku “Poligami” yang ditulis oleh Aoh K. Hadimaja yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Dalam buku kumpulan cerpen itu, ada satu cerpen yang judulnya dibuat menjadi judul buku yaitu “Poligami”. Aoh seorang laki-laki. Ketika ia menulis tentang poligami, ia juga menuliskan tentang beratnya penerimaan seorang perempuan baik itu yang menjadi istri pertama maupun istri kedua. Meskipun akhirnya mau dijadikan istri kedua, tokoh perempuan dalam cerpen yang ditulis Aoh itu, juga tidak ingin anaknya mengalami nasib yang sama dengan dirinya. Ia ingin dirinya saja yang terakhir merasakan poligami.
Poligami itu, tambah Imaniar, tidak mudah. Poligami tentunya membawa banyak permasalahan psikologis. Kita bisa membaca surat-surat Kartini dalam “Habis Gelap Terbitlah Terang” terbitan Balai Pustaka. Kita akan memhami pemikiran dan perjuangan Kartini tentang permasalahan poligami yang membuat perempuan-perempuan mengalami nasib nahas dan menjalani penderitaan hidup.
Imaniar menuturkan, novel “Kolam Susu” ini ramai dengan nama tokoh namun sepi gejolak perasaan tokoh-tokohnya. Meski demikian, pembaca diajak juga untuk bisa melihat kehidupan istri-istri dengan kelas sosial menengah ke atas. Melalui tokoh Ayla, Aima, dan Yeyen misalnya, kita akan tahu bahwa aktivitas perempuan borjuis akan berbeda dengan nasib perempuan-perempuan dalam golongan proletar seperti buruh pabrik. Sebagai perempuan borjuis, mereka bisa lebih santai dalam menjalani hidup. Aktivitas yang mereka lakukan setelah menyiapkan kebutuhan suami dan anak-anak, mereka bisa berolah raga, kuliner, jalan-jalan, dan tentu saja merumpi.
“Segala terlihat indah namun sulit dijangkau untuk perempuan dari kelas proletar. Perempuan-perempuan borjuis juga dibantu oleh asisten rumah tangga yang membuat mereka bisa melakukan aktivitas lain di luar rumah. Hal ini terjadi karena ada perempuan lain dari kelas sosial di bawahnya yang menggantikan tugas domestik seperti mengurus rumah tangga,” tukasnya.
Imaniar berpendapat, bagi perempuan yang secara finansial sudah tercukupi oleh suami atau warisan orang tua, mereka ingin tetap bekerja sebagai wujud eksistensi diri dan agar tidak merasa bosan di rumah. Berbeda dengan perempuan yang bahkan dari kecil harus bekerja mencari nafkah untuk keluarga, mungkin keinginan mereka adalah bisa sedikit bersantai untuk menikmati hidup. Sehingga yang dipikirkan, diinginkan, dan diperjuangkan perempuan-perempuan dengan kelas sosial yang berbeda ini menjadi tidak sama. Melalui “Kolam Susu”, pembaca bisa melihat dan memahaminya.
Selain ramai nama tokoh, lanjut Imaniar, novel ini juga ramai kuliner. Aneka makanan dan nama warung makan dan restoran tersaji dalam cerita. Kita bisa belajar tentang gastronomi sastra. Makanan tidak hanya sebagai pemenuh kebutuhan jasmani, namun makanan sebagai identitas, citra, budaya, ekologi, dan sebagainya. Tokoh-tokoh dalam novel ini sangat suka jajan. Mereka makan di tempat-tempat kuliner terbaik di Semarang. Ada beberapa yang disebutkan: tjapjay Tukino, nasi goreng babat Pak Taman, Restoran Mang Engking, Toko Oen, dan masih banyak lagi. Nama-nama tempat itu terbaca laris, lezat, atau mahal. Pilihan makanan mencerminkan identitas mereka sebagai kalangan menengah atas. Untuk mengobrol mereka perlu berhadapan dengan makanan. Tidak hanya pilihan menu saja, namun tempat juga bisa membawa gengsi.
Tampil dalam kegiatan Reuni Sastra 2025, juga Ketua Forum Sastra Surakarta Sosiawan Leak, Ketua Satupena Jawa Tengah Gunoto Saparie, Pimpinan Pondok Suraukami Guspar Wong, Direktur Penerbit Gigih Mandiri Budi Maryono, dan penyair Ungaran Yusri Yusuf. Kegiatan juga diramaikan oleh grup Kwartet Coustik Semarang dan Kumpulan Seni Budaya Zamzam Bojonegoro. Mengawali kegiatan Sriyanti S Sastroprayitno melantunkan tembang macapat. (*)

