Konten Lokal Temanggung Segera Meluas
TEMANGGUNG (Ampuh.id) – Konten karifan lokal Temanggung diharapkan segera tersebar luas dan banyak dibaca masyarakat. Diharapkan pula muncul penulis-penulis muda yang potensial, mampu menulis konten secara baik, benar, sekaligus memerangi berita bohong alias hoaks.
Demikian dikemukakan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Temanggung, Supriyanto AP, MM ketika membuka Bimbingan teknis Penulisan Berbasis Kearifan Lokal, di Gedung Sasana Bhakti Pustaka setempat, Rabu (24/7/2025). Dikatakannya, budaya kearifan lokal Temanggung masih banyak yang belum digali dan diangkat menjadi konten.
Ketua Perkumpulan Penulis Indonesia Satu Pena Temanggung, Wiwik Hartati yang juga Kepala MTS Ma’arif Nurul Huda Kaloran, sebagai salah seorang narasumber, dia menyatakan, masyarakat perlu diberdayakan untuk lebih peduli terhadap budaya kearifan lokal di daerahnya.
“Caranya, salah satunya digencarkan melalui konten-konten di media sosial,” ujarnya.
Dia menilai, Bimbingan teknis Penulisan kearifan lokal menjadi sangat penting seiring loncatan dahsyat teknologi belakangan ini. Oleh karena itu, walaupun kesibukan di unit kerjanya sangat padat agenda dan menupuk, ia sempatkan menyampaikan materi kekayaan budaya kearifan local Temanggung.
Menurut Wiwik, potensi sumber daya alam Temanggung potensial yang berada di jantung Provinsi Jawa Tengah dan kaya panorama indah, sangat potensial dikembangkan menjadi destinasi wisata. “Bukan hanya alamnya saja yang indah, tetapi juga menyimpan budaya tua yang belum banyak diangkat ke permukaan,” tuturnya.
Selama ini, katanya, Temanggung hanya dikenal sebagai daerah agraris penghasil tembakau dan kopi. Masyarakat belum banyak yang mengetahui, Temanggung memiliki wayang kedu yang semula menjadi rujukan perkembangan wayang purwa gagrak Mataraman Yogyakarta maupun Surakarta.
Temanggung tempo dulu memiliki dalang kondang Ki Panjang Mas alias Ki Lebda Djiwa. Pada sekitar abad 17, dia diundang ke Kasunanan Surakarta maupun Keraton Mataram Yogyakarta untuk menjadi guru pengembangan wayang kulit atau wayang purwa.
Dikatakan pula, dari sisi bahasa, masyarakat Temangguung mememang secara umum berbahasa jawa. Namun Temanggung memiliki dialektika khas. Sementara dialektika Temanggungan ini belum mendapat perhatian penuh dari pihak pemangku kepentingan.
Tampil sebagai narasumber juga dua dosen muda Inisnu Temanggung Zaidatul Arifah M.Pd dan Ana Sofiatul Azizah SS, M.Pd, masing masing menyampaikan materi Teknik penulisan dan penyuntingan naskah. Bimbingan Teknis penisan berbasis kearifan lokal diikuti sekitar 60 peserta dari berbagai profesi. (*)

