Bangun Jalan ke Kandang, Warga Nepen Boyolali Temukan Batu Diduga Stupa Candi

BOYOLALI (Ampuh.id) – Warga Desa Nepen, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali menemukan dua batu yang diduga merupakan bagian bangunan candi berupa stupa dan prasada saat melakukan pembangunan jalan menuju kandang ternak. Temuan tersebut kini tengah diteliti lebih lanjut oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali.

Penemuan itu terjadi di lahan milik warga bernama Sopan Prasetyo yang sedang membuka akses jalan menuju area pekarangan untuk kandang sapi dan kambing di Dukuh Nepen.

Sopan mengatakan temuan pertama terjadi sekitar April 2026 ketika ia menemukan bagian yang diduga pondasi atau landasan batu saat meratakan tanah.

“Penemuan pertama sekitar April, saya menemukan pondasi atau landasannya. Kemudian saya angkat dan tanahnya mau diratakan untuk jalan. Saat saya keruk lagi, ternyata ditemukan batu yang diduga stupa pada 14 Mei 2026. Lokasinya sama, hanya beda kedalaman sekitar satu meter,” ujar Sopan, Minggu (24/5/2026).

Setelah menemukan dua batu tersebut, Sopan mencoba mencocokkan bentuk keduanya dan menemukan adanya struktur yang saling mengunci.

“Saya coba pasang dan ternyata bentuknya seperti cocok. Ada titik yang saling mengunci dan pas,” katanya.

Temuan itu kemudian dilaporkan ke komunitas pegiat sejarah Buddha dan akhirnya diteruskan ke Disdikbud Boyolali untuk ditindaklanjuti.

Sopan berharap temuan tersebut dapat diteliti secara ilmiah, namun ia juga berharap benda itu tetap berada di lokasi penemuan. Ia juga mengaku mengalami pengalaman pribadi sebelum menemukan batu tersebut.

“Sebelumnya saya sempat bermimpi tentang batu-batuan dan air, seperti diminta untuk merawat sesuatu. Setelah penemuan ini, kebetulan Umbul Gondang di sebelah barat Nepen yang lama mati malah kembali mengeluarkan air,” ujarnya.

Sementara itu, Staf Bidang Kebudayaan Disdikbud Boyolali sekaligus Tim Ahli Registrasi Pendaftaran Cagar Budaya, Farid Burhanuddin, mengatakan kedua batu ditemukan di titik yang sama tetapi pada waktu dan kedalaman berbeda.

“Awalnya masyarakat ingin melakukan pelebaran jalan di lokasi penemuan pertama. Saat alat berat menggali sekitar kedalaman 80 sentimeter, ditemukan struktur batu yang diduga merupakan prasada,” kata Farid.

Berdasarkan pengukuran sementara, batu yang diduga stupa memiliki tinggi sekitar 1,25 meter dengan diameter 1,3 meter. Sementara batu yang diduga prasada memiliki tinggi sekitar 20 sentimeter dengan diameter 1,8 meter.

Meski bentuk keduanya terlihat saling sesuai, Disdikbud belum dapat memastikan apakah keduanya berasal dari satu struktur bangunan yang sama.

“Untuk memastikan hubungan antara prasada dan stupa tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut,” jelas Farid.

Dari karakteristik material dan bentuknya, batu tersebut diduga merupakan bagian dari bangunan candi bercorak Buddha yang berasal dari abad ke-8 hingga abad ke-9 Masehi atau masa Kerajaan Mataram Hindu–Buddha.

Namun demikian, Disdikbud menegaskan penentuan usia dan fungsi temuan tersebut masih menunggu hasil kajian lanjutan.

Saat ini langkah yang dilakukan pemerintah daerah meliputi pengamanan lokasi, dokumentasi temuan, serta pelaporan kepada Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Tengah.

Jejak Peradaban

Farid mengungkapkan sebelumnya wilayah Nepen juga pernah ditemukan sejumlah batu yang diduga objek diduga cagar budaya (ODCB), terutama berupa prasada. Namun, untuk temuan stupa jumlahnya masih sangat terbatas.

“Di Desa Nepen memang sudah ada beberapa temuan batu ODCB. Kebanyakan berupa prasada, sedangkan stupa baru ditemukan dua. Kemungkinan ini menunjukkan adanya jejak peradaban, entah tempat peribadatan atau bengkel pembuatan batu, tetapi itu masih perlu penelitian lebih mendalam,” ujarnya.

Menurut Farid, salah satu hal yang membuat temuan ini menarik adalah keberadaan ornamen yang dinilai unik serta kondisi batu yang masih relatif utuh.

“Kondisinya masih sekitar 90 persen utuh. Soal detail ornamen, fungsi, dan kaitannya dengan masa kerajaan tertentu masih menunggu kajian lanjutan,” katanya. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *